Saturday, 21 May 2016

Kebanggaan dan kebahagiaan orang tua, ketika semua anaknya sangat dekat secara emosional dalam segala situasi, apalagi kalau dekatnya sejak dalam perut. Anak pertama saya Gisel Yuline Hentakun, sekarang lebih tiga tahun, sejak dalam perut sudah sangat dekat, dia memilih lahir di rumah di Kembayan, karena tahu kondisi ekonomi orang tuanya, dan tidak menyulitkan orang tuanya ketika lahir, hampir tanpa dibantu. Itu Gisel, sekarang anak itu tumbuh dan tanda-tanda kemandirian sudah terlihat, puji Tuhan.

Saya memang ini melestarikan marga Takun, sehingga anak-anak bahkan cucu dan cicit nantinya menggunakan nama itu, karena nama Bapak saya itu khas Dayak, dan punya nilai historis yang bagi saya sangat tinggi. Saya pun terima kasih dengan orang gila sebut saja namanya severianus endi, alias endi djenggoet, dialah yang memanggil saya Takun, itu memang nama Bapak saya, karena nama saya Hendrikus Christianus Takun. Masuk akal disingkat HenTakun, dengan "T" kapital.
Walau endi, gila tapi lulusan komunikasi Atma Jaya Yogyakarta dengan predikat memuaskan (IPK-nya ga usah disebut) meski agak lama, saya akhirnya memahami kenapa orang itu kuliahnya lama, karena di kampusnya banyak yang segar, jadi obat awet mudalah. Padahal secara IQ lebih pintar, bahkan cenderung cerdas bahasa Dayaknya bagus, demikian inggris. Stop bahas orang itu, nanti dia besar kepala, karena susah ditelepon.

Kelahiran anak kedua saya itu, membuat jantung saa berdegup sanga cepat, bagaimana tidak, hampir seminggu mamanya ngadem di rumah sakit Antonius, padahal sudah buka tiga kata dokter Petrus Juntu, dokter spesialis yang menangani orang-orang melahirkan di rumah sakit swasta Katolik terbesar di kalbar itu. Dokter ini banyak menolong orang tidak mampu, profesional dan familiar. Jika memang kita tidak mampu secara finansial, maka biaya rawat inap menjadi sangat bisa dijangkau. Petrus Juntu orang Balai Berkuak, salah satu dokter spesialis dari Balai Berkuak yang sukses di Pontianak.

Ketika istri saya mau melahirkan anak kedua, Juntu-lah yang menanganinya. Adalah Marshall nama anak imut itu, lahir sekitar jam 10 malam di ruang bersalin Santo Antonius, Lali-laki yang kini tujuh bulan lebih itu, harus menunggu bapaknya datang baru mau keluar dari perut mamanya. Saya habis acara dari Kenepai Komplek jaraknya jauh dari pontianak, hitungan hari baru sampai, malam itu pelantikan temenggung di kampung yang aksesnya melalui kebun sawit yang kalau tak paham bikin nyasar bisa sampai ke Malaysia.

Signal selular pun tak ada. Sehingga sampai di Semitau, saya mendapat telpon istri saya Henny Florentina, kalau sudah beberapa hari buka tapi belum juga lahir, takutnya air ketuban habis, opsi saya waktu itu hanya cesar, bayangan saya bagaimana perut istri saya dibelah dijahit lagi. Ah...mengerikan, itulah perjuangan seorang istri, luar biasa, Puji Tuhan tidak. Saya memberanikan diri ijin dengan pimpinan untuk pulang lebih dulu, terima kasih puji Tuhan saya diijinkan, nanti setelah selesai semuanya menyusul gabung lagi dengan pasukan Boax. Yang saya ingat, beliau bilang, "Kau pulang urus dulu, itu nyawa manusia,",  sungguh sangat bijaksana. Sepanjang jalan saya dikuatkan dengan kami berbalas pesan singkat. Terima Kasih Pak, saya juga dibantu segalanya oleh beliau, rasanya berdosa kalau sampai tidak bekerja tulus dengan beliau.

Subuh jam 2 saya pulang, diantar dua anggota Polpp Mas Bowo dan Mas Hendra, mereka berdua ini tulus. Walau ngantuk luar biasa, mas Bowo tetap mengantar saya ke Pala Kota sekitar 1,5 jam dari Semitau, di sana sudah menunggu Pak Numsuan Karo Humas Pemprov Kalbar, kami menuju Sintang, dari Sintang, saya bersama Staff Humas Bang Nurbuat menuju Pontianak, carter Mobil, sepanjang pagi kami menuju pontianak, Sampai di Pontianak saya langsung ke rumah sakit, di ruangan sudah menunggu istri saya dengan harap-harap cemas. Saya cium perut dan keningnya, di perut istriku saya bilang, "Nak, kalau mau lahir lahirlah Bapak udah datang," respon dengan gerakan alami bayi dalam perut ada, seakan mengiyakan. saya tarik nafas dalam, menenangkan istri, semua akan baik-baik saja.
Marshall Rudao Hentakun, panggilannya si Bujang Macal

Malamnya anak saya lahir, laki-laki, kami namakan Marshall Rudao HenTakun, Marshall (karena saya suka nonton film perang amerika, ada kapten Marshall),  Ada juga Wakil Presiden Amerika, seorang politikus. Kata "marshall" pun enak diucap, kalau di Dayak, Marshall dipanggil kesanyangan jadi Macal, Mamacal, bahasa Dayak Simpang Hulu artinya kurang lebih Mulok, ngotot, orangnya mamacal kalau menginginkan sesuatu, ngotot kalau menginginkan sesuatu. Tentu dengan perjuangan mandiri, itu yang kami dua mamanya harapkan. Rudao, diambil dari film Warriors of The Rainbow : Seediq Bale. Film ini menceritakan seorang Kepala Suku Seediq Bale, Mona Rudao, memimpin masyarakatnya melawan penjajahan Jepang. Takun, adalah Kepala Desa Merawa, Rangkaya, ibaratkan di Indonesia itu Jaksa Agung dalam masyarakat Dayak Kualan. Juru Damai bila terjadi konflik di masyarakat Dayak Kualan, dan pemutus perkara adat pada tingkat tertinggi. Jadi ada tiga unsur, lokal, regional, Internasional dalam diri Marshall Rudao Hentakun. Tentu, semua orang tua berharap anak-anaknya berhasil, anak itu, kata Uncle Marcellus Basso, salah satu tokoh Dayak Kapuas Hulu, adalah anugerah Tuhan, bukan titipan Tuhan (Iyakan uncle), kelak dia mau jadi apa, kita orang tua hanya membimbing, mengarahkan. Garis Tangan anaklah yang menentukan. Puji Tuhan, yang tua, ciri-ciri kemandirian sudah terlihat, yang kedua, ngototnya pun sudah terlihat.
Tuhan maha besar, meskipun saya bukan siapa-siapa di dunia ini, Tuhan mau memberikan tanggung jawab besar pada saya, yang kata orang Gemuk, hitam, pendek, kelak bisa membesarkan anak-anak saya agar lebih baik hidupnya dari kami sekarang.

Thursday, 25 April 2013

Gisel Yuline Hentakun
“Pa, bangun mama sakit perut,” ujar istriku, Henny Florentina seraya memegang perutnya. Saya bangun, waktu menunjukan sekitar pukul satu lewat. Dia mengerang kesakitan, tak ada bayangan kalau pagi itu jam 02.00 WIB anak saya akan lahir, memang kemamilannya sudah mencapai bulan terakhir dan mendekati tangal melahirkan, namun prediksi Bidan di Kampung itu sekitar tanggal 25 Juli 2012, atau enam hari lagi.
Hanya meminta mengantarkan ke kamar kecil. Saya menuntunnya, namun di kamar kecil erangan semakin kuat, Saya meminta supaya pintu kamar kecil tidak di kunci. Sejurus kemudian dia memanggil saya untuk membantu keluar kamar kecil, dia mengatakan kalau celananya basah, pertanda ketuban pecah, “Pa, mama mau melahirkan, tolong bangunakn nenek dan kakek,” pinta istriku lirih menahan sakit. Setelah membaringkannya, saya menuju kamar mertua dan mengedor pintu mereka, sejurus mereka bangun walau masih terlihat ngantuk, saya sampaikan kalau istri saya mau melahirkan. Mereka bergegas menuju kamar dan mempersiapkan karpet spon di atas tempat tidur kami, istri saya berbaring di situ.
Kami beruning sekitar lima sepuluh menit, sementara istriku masih mengerang sakit. Saya dan kakek memutuskan untuk memangil bidan di ujung kota kembayan, karena bidan yang merawatnya selama hamil ke luar kota. Subuh pekat Alfa tua menderu menembus dingin, di boncengan pikiran saya berkecamuk, dag dig dug gembira, was-was menjadi satu.
NEK BIDAN
Kepalan tangan dan tendangan di pintu teralis ternyata tidak cukup kuat membangunkan bidan yang kami tuju. Hati kesal bercampur marah, namun bisikan meminta supaya saya sabar dan maklum karena jam segitu jamnya enak tidur, jadi meski medis bekerja tak kenal waktu ya harus dimaklumi, mungkin saja dulu waktu pendidikan tak diajarkan PPGD atau belajar tapi PPGD tidak lulus, maklum di kampung.
Kami berdua bapak mertua menanyakan ke rumah di depan mereka, ternyata memang sudah bangun, ya sudahlah. Namun ada tawa kecil dengan muka geli dari salah satu mereka, saya cuekkan saja, lalu mertua saya mengatakan, kalau yang tertawa tadi itu mentertawakan saya karena hanya menggunakan celana dalam dan singlet Gtman hitam, alamaaak malunya saya. Karena paniknya lalu tak sadar kalau ke pasar hampir tanpa busana, dibonceng mertua pula.
Kami meninggalkan pasar dan menuju depan rumah dengan maksud memanggil Nenek Bidan Anas. Bidan sepuh berpengalaman dan sabar, beliau mantan suster, memang jarang konsultasi ke Nek Bidan, karena beliau sudah tidak mau ‘mengurus’ orang hamil, apalagi hamil pertama. Namun malam itu saya memaksa Nenek untuk ke rumah karena tidak ada lagi tenaga medis lain, Nenek pun bersedia dengan Bidan Kit seadanya membantu persalinan istri saya. Subuh itu saya diminta bantuan Nek Bidan mengambil peralatan yang kurang, (maaf masih berkolor ria), sudah seperti setrika pakaian ke rumahnya membangunkan anaknya yang Bidan pula untuk mengambil alat persalinan yang kurang, kapas suntik, sarung tangan, sampai tak tahu kalau anak saya sudah lahir, saya masih saya bolak balik mengambil alat, gurita, dot bayi. Memang persiapkan kami sudah ada, namun sudah terlanjur dimasukan travel bag karena persiapan ke pontianak besoknya tanggal 19 Juli. Inginnya, istri saya melahirkan di pontianak, karena melihat kondisi kehamilannya yang lemah dan sering mual  dan muntah. Biar aman dan saran Bidan di Kembayan pun harus ke pontianak untuk persalinan.
Namun, sore sebelum lahir, Istri saya ajak bicara Janin di dalam perut, ditanya mau lahir di rumah atau di Pontianak, ternyata subuh jam 02.00 WIB tanggal 19 Juli 2012 anak saya menjawabnya dengan lahir di kamar sederhana 4x4 meter itu, persalinan normal pula, puji Tuhan. Walau tangisan pertamanya tidak sempat saya dengar, begitu selesai mengambil peralatan nenek bidan, saya langsung mencium keningnya, sejurus, nama pun diberikan GISEL YULINE HENTAKUN, kami menginginkan anak itu kelak menjadi orang yang berguna bagi semua orang, bagi orang lemah, bagi orang yang membutuhkan pertolongan hidup. Istri saya tersenyum simpul lihat tingkah polah suaminya yang sedikit norak, perasaan was-was, hampir tak berbusana ke pasar terbayar sudah dengan lahirnya bayi imut itu. Semoga setiap langkahmu selalu dilindungi Tuhan nak. 

Sunday, 3 June 2012






Kampung Gumbang Wilayah Kuching Serawak
Laki-laki menyodorkan 50 Ringgit ke temannya yang datang dari arah PPLB Entikong-Indonesia. Transaksi berjarak 100 meter dari PPLB Tebedu, kemudian penyodor berlalu dengan beberapa orang berperawakan khas Indonesia Timur. Laki-laki yang menerima Ringgit kembali memutar ke Entikong, “Mengantar teman” katanya kepada dua Rela (Security) yang bertugas membuka tutup pintu masuk PPLB Tebedu-Malaysia. Kedua petugas Rela itu hanya mengangguk kemudian membukakan pintu, Dia pun bergegas.  Menurut seorang teman yang sehari-hari nongkrong di kawasan Perbatasan, jika orang perbatasan yang keluar masuk PLB apalagi sudah kenal, tidak terlalu dicurigai, apalagi laki-laki tadi yang hampir puluhan kali dalam sehari keluar masuk pintu batas dua negara itu, biasanya membawa banyak orang ke Malaysia.

Jalan Berkesan
Melewati Tebedu serasa masuk kawasan wisata, karena Malaysia memang membuat teras negaranya berkesan bagi pengunjung, selain tidak ditemukan lagi berbagai macam calo, taman pinggir jalan tertata rapi, jalan lintas perbatasan mulus, tidak ada lubang menganga, kontras dengan Entikong-Pontianak, lubang menganga setiap saat menunggu mangsa, kaki atau kepala yang luka bahkan patah pecah berkeping kalau tidak hati-hati. Jalan ke Kuching lebar. Bahkan dari Serian-Kuching mengalahkan jalan protokol di Jawa yang macet dan semerawut,jangan bandingkan dengan infrastruktur Kalimantan bagian Indonesia, mungkin sama atau lebih tidak baik dari jalan ke kampung-kampung di Kawasan Kuching.
Di Kuching, walau kendaraan roda empat atau lebih begitu berseliweran, tidak membuat macet, di jalan raya, apabila diketahui memacu Kereta melebihi kecepatan 90 km maka siap-siap merogoh kocek untuk membayar denda tilang, kamera pengintai dipasang di setiap sudut jalan rawan, “Di sini aturan lalu lintas tak kenal kompromi, melanggar ya tilang,” terang Erwin seorang teman dari Entikong yang satu rombongan. Erwin hampir setiap hari ke luar negeri Serian atau Kuching bahkan hanya untuk makan siang dengan rekan bisnis. Dia menguasai betul bahasa dan langgam Melayu negeri tetangga itu, Saya banyak belajar dari dia tentang Malaysia Timur khususnya Khucing dan sekitarnya. Kawasan perbatasan di Malaysia benar-benar menjadi beranda negara yang santun, indah, paling                                                                                                                                                                                                                                tidak tiada pemeriksaan aparat berlapis, apalagi harus memberi uang tips di setiap pos.

Gawai
Saya tak ambil pusing, apakah yang pria paro baya tadi transaksi llegal atau tidak, karena kami sendiri datang secara legal, dan dalam misi Ngabang Gawai di Negara Bagian Sabah Serawak. Ngabang adalah sebutan untuk istilah nonton Gawai dalam bahasa Dayak Bidayuh. Kalau bahasa Dayak Kualatn, Ngabakng, artinya sama.  Di Malaysia Timur, Gawai sudah menjadi hari besar nasional, karena menghargai Etnik Dayak sebagai penduduk asli pulau Borneo ini untuk mengucap syukur karena hasil panen Padi berlimpah, maka pemerintah Malaysia membuat aturan resmi perayaan Gawai. Negara Malaysia yang mayoritas Islam, toleran dengan Gawai sehingga menjadi agenda negara setiap tahun, Bila Gawai, toko-toko dan kilang di tutup, “Di sini bila gawai maka Pasaraya dan Kilang ditutup, karena pekerja pulang kampung untuk merayakan Gawai,” terang Peter Lai yang etnik Tiong Hoa Khek beragama Khatolik. Peter orangnya sabar . Dia membawa serta istri dan abang iparnya memandu kami selama berkeliling di Sabah-Serawak, Peter bekerja di Kuching. Dua anaknya sudah menyelesaikan perguruan tinggi di Kuching. Dia aktif di Gereja, Dia bertugas mengupdate setiap minggu foto gereja-gereja Paroki di Keuskupan Kuching.
Gawai yang dirayakan setiap awal Juni, mengundang tidak sedikit masyarakat Indonesia perbatasan ke Malaysia bertemu saudaranya. Pemeriksaan oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM) pun tak seketat hari biasa, cukup membuka kaca pintu dan melambaikan tangan tentu dengan senyuman. Apabila ditanya, bilang saja mau Gawai, maka kita dibiarkan lewat, namun bukan berarti mereka lengah, hanya saja kita tak perlu singgah dan member tips hehe... Gawai di Malaysia dikemas sebagai event wisata budaya, menyedot banyak pegunjung dari luar negeri, terutama Indonesia kawasan perbatasan, bahkan dari Piliphina. Masyarakat perbatasan Indonesia dari Aruk sampai Badau pada pekan Gawai berbondong-bondong ke Malaysia Timur untuk mengunjungi saudaranya. Di Kota Kuching, baliho ucapan selamat Gawai berseliweran, bahkan di beberapa Pasaraya (Supermarket) kantong plastik pembungkus belanjaan bergambar orang Dayak main alat music Sape (sejenis gitar), dan ada tulisan Selamat Gawai. Utusan Borneo, salah satu Koran terbesar di Kuching, mengutip pernyataan Yang di-Pertua Negeri Tun Datuk Patinggi Abang Muhammad Salahudin, yang juga dijadikan Headline pada Koran tersebut hari Jumat (1/6), Tun Salahudin mengharapkan, Gawai sebagai identitas Kaum Dayak harus terus di lestarikan, Gawai, menunjukan tanda syukur dan terima kasih atas rejeki yang diperoleh, dalam Gawai juga dipanjatkan doa agar dimurahkan rejeki tahun yang akan datang.
Yang di-Pertua Negeri tersebut juga mengingatkan agar perbedaan jangan menjadi penghalang untuk bersatu menuju sebuah negara yang dinamis dan progresif. Selama 49 tahun Sarawak Merdeka dalam Malaysia, setiap masyarakat seperti halnya Etnik Dayak bebas mengamalkan tradisi dan agama masing-masing. Pernyataan ini sejalan dengan konsep Satu Malaysia yang mengajak untuk menerima keunikan kaum lain apa adanya agar dapat hidup dalam suasana hormat menghormati satu sama lain.
Bersama Penyiar Gawai FM di Kampung Suba Buan Kuching
Di Indonesia sendiri khususnya di Kalimantan, event Gawai tidak bersamaan, bahkan di Kalimantan Barat, perayaan Gawai terbesar hanya di Pontianak, pun tanggalnya berbeda dengan Gawai di kampung-kampung, ini karena tidak ada aturan yang jelas mengenai peringatan salah satu event kebudayaan Dayak tersebut, terkesan tidak ada kekompakan.

Hari Gawai Semua
Jalan mulus beraspal menuju kampung mungil ditempuh satu jam dari Kota Kuching, membuat Saya ngantuk, karena kaca pintu Kereta Daihatsu yang kami tumpangi sengaja diturunkan untuk menikmati udara malam berhembus seakan mendorong Saya ke sandaran kursi setelah itu memaksa menutup kelopak mata biar terlelap. Tapi Saya lawan, karena kali pertama masuk kampung di negara lain memunculkan beribu pertanyaan.
Adalah kampung Sengai di kawasan Bau, Kuching, dilihat dari bangunan, tak ubahnya perkampungan di Eropa. Bersih, rumput tertata rapi di sekeliling rumah yang juga bergaya Barat. Yang membedakan hanya tanaman liar membuat saya teringat kampung halaman di pedalaman kabupaten Ketapang Kalimantan Barat Indonesia, hampir tak berbeda, Pakis, Bambu tumbuh dengan hijaunya di sekeliling kampung, tak terkecuali pohon karet yang menjadi primadona petani di Kawasan Malaysia Timur. Karena dengan Karet, hampir setiap rumah terparkir berjejer Sedan proton sampai Alphard 2-3 buah. Mereka membelinya dengan kredit, karena kalau pembelian Cash  maka dikenakan pajak, bahkan ditambah pajak orang kaya. Harganya pun terjangkau, karenanya petani karet bisa membeli kendaraan bernama Kereta dalam bahasa Malaysia itu.
Di Sengai kami mengunjungi Keluarga rumah Tina Jerome, Dia menyambut kami ramah, kami dihidangkan nasi dari beras merah dan daging Babi. Wajah Tina khas  Tiong Hoa, namun merayakan Gawai. Tak hanya makanan, Bangunan minimalis Style Eropa tersebut dihiasi ornament Dayak, mulai dari Bidai untuk alas lantai ruang tamu dan gantungan-gantungan tenun ikat Dayak Iban rapi di dinding. Teriakan Tere (tos-tosan) malam itu meriuh diantara hembusan angin malam dan sinar rembulan, “Tere…! Ting…!” demikian suara gelas beradu, kemudian masing-masing menenggak.
Tiga Jam dari Siding Indonesia
Jika pepera seperti Timor Leste, mungkin banyak masyarakat perbatasan Indonesia yang akan memilih bergabung ke Malaysia, karena mereka menganggap di Malaysia, segala kebutuhan bisa mereka penuhi dengan harga terjangkau dan transportasi lebih bagus, apalagi kualitas pendidikan, jangan ditanya. Di Kampung Gumbang Distrik Bau, Kuching, masyarakat Dayak Bidayuh fasih berbahasa Indonesia, mereka mengaku masih punya keluarga di Jagoi Babang dan Siding Kabupaten Bengkayang- Indonesia yang juga rumpun Bidayuh, bahkan ketika kami Ngabang Gawai ke kampung yang dipenuhi batu besar tersebut, kami bertemu orang Siding berbelanja ke Market Gumbang, Siding-Gumbang tiga jam dengan berjalan kaki. Naik Gunung kemudian turun sudah sampai di Siding. Menurut masyarakat Gumbang, mereka dulu Indonesia, namun karena ada aturan nenek moyang mereka bahwa perbatasan dengan berdasarkan Sungai, maka mereka yang di seberang bergabung dengan Malaysia, hanya saja, administrasi negara tak mungkin memisahkan kekerabatan mereka. Salah seorang warga Gumbang mengatakan, kalau Gunung Api tidak mereka ganggu, banyak pohon buah-buahan seperti Durian. Di sela-sela batu itu mereka mendirikan rumah, bukan menjadi kendala, malah rumah mereka sekokoh batu dan beberapa sudah bergaya Eropa.
Masyarakat Gumbang juga pandai memanfaatkan batu-batu itu untuk tempat santai, malah ada yang dibor untuk pondasi penggilingan karet. Kebersihan, jangan ditanya, di sela-sela bebatuan sudah dibeton, tidak ada menginjak tanah, saya berpikir, jika kampung di pedalaman Ketapang Kalimantan Barat Indonesia seperti Kangking atau Sungai Bansi dibuat seperti itu, mungkin  daerah miskin di Indonesia berkurang.
Kampung Gumbang hampir semuanya Dayak Bidayuh, mereka sembayang saja menggunakan bahasa Dayak Bidayuh. Letak kampung itu di kaki Bukit, kampung unik karena banyak batu besar. Batu diduga berasal dari atas gunung sejak nenek moyang, gunung yang ada di atas kampung disebut gunung api, kemiringan mencapai 45 derajat. Mereka mau ambil kayu untuk bahan rumah harus ijin pemerintah setempat, biasanya ke perbatasan Indonesia, tidak sedikit, ladang mereka yang masuk dalam kawasan Indonesia, hanya saja tetap dibawah pengawasan penerintah setempat. Mereka mengatakan, kami ada dan sudah bersaudara sebelum negara ada dan memisahkan mereka. Interaksi dengan masyarakat Siding yang juga Bidayuh, baik, malah sering dilakukan pertemuan Adat. Walau terkesan menyalahi aturan pemerintah, menyeberang untuk berbelanja atau silaturahmi bukan hal baru, toh Pemerintah Indonesia tidak mampu membangun perbatasan menjadi lebih baik dalam berbagai hal, apalagi pendidikannya.
Salah satu rumah yang kami kunjungi milik Cik Gu Piter Asai, anaknya yang pertama mengikuti jejak ayahnya menjadi Cik Gu, yang kedua Askar Darat bahagian Kerani Gaji, kalau di Indonesia sebagai tentara logistik. Jangan disangka seram, seperti Polisi dan Tentara Indonesia kebanyakan, senyum ramah dibalik tubuh kekar jelas terlihat, menurutnya, mungkin bawaan dari kantor yang harus sabar melayani prajurit ketika mengantre mengambil gaji. Jauh berbeda dengan sorot mata Tentara Indonesia penjaga perbatasan yang angker, moncong terkokang, mengerikan, tak ada senyum di sana. Tidak salah kalau Malaysia membangun perbatasannya dengan pendekatan sosial ekonomi, bukan militer dan pegawai titipan.  Jangan salahkan jika suatu saat militer akan menjadi hantu yang menakutkan di perbatasan Indonesia, apalagi militer Indonesia.

Pejabat Merawa Distric

Kampung Jantan dan Bubur Tupai
“Disini tidak ada perempuan, di sini laki-laki semua, makanya dikatakan kampung Jantan,” ujar Lazarus Swinie berseloroh, yang disambut tawa kami yang baru datang, hidangan di meja menggoda, tidak salah beberapa kawan mengatakan Saya tukang makan hehe….
Lazarus Swinie adalah imam Katolik yang bertugas di Gereja Holy Spirit, Gereja Paroki termuda dari 13 Paroki Keuskupan Kuching. Dia menunggu kami di Kampung kelahirannya Jantan, yang berasal dari kata Jantaatn. Jantaatn adalah buah akar berwarna kuning bila sudah matang, di Kampung Saya juga banyak buah yang enak dimakan tersebut, rasanya sedikit kecut, namun bila sudah sangat matang, manis. Bisa juga dibikin rujak. Di Kampung Jantan, 90 persen orang Ahe, 20 buah rumah terbangun megah, di halaman, dua sampai tiga Mobil mewah terparkir, bahkan diantaranya Hilux putih doble kabin.  Menurut padre Swinie, masyarakat Dayak di situ fasih berbahasa Ahe, karena nenek moyang mereka orang Kanayatn. Kampung yang jalannya baru dibangun pemerintah Malaysia tersebut tidak jauh lagi dari perbatasan  Indonesia. Saya pikir orang Kanayatn  hanya di Ngabang atau Ambawang, ternyata di Distrik Lundu, kampung Jantan, Malaysia juga ada. Saya kaget, ketika bersalaman, bahasa Ahe-nya kental, malah lebih ramah.
Di Kampung Jantan kami disuguhi makanan yang tak berbeda dengan hidangan Indonesia, ada Sayap Ayam Bakar, Babi, Sop dan Bubur Tupai. Yang unik adalah Bubur Tupai, Saya tidak boleh memakannya, karena pantangan penyakit, walaupun hasrat hampir tak terbendung untuk mencicipi. Kawan-kawanlah yang lahap. Bubur Tupai berubah menjadi menu utama, beberapa kawan tidak melirik menu lain, karena Bubur Tupai, selama hidup mereka, baru menyantapnya di Kampung Jantan, Saya sendiri baru melihat, karena di Pontianak adanya Bubur Ayam, Babi dan Ikan.
Mula-mula Padre Swinie menghidangnya di Baskom, namun tidak berapa lama habis, dikeluarkannya lagi satu baskom, juga habis, akhirnya imam tinggi besar tersebut mengangkat periuknya dari dapur, yang akhirnya Bubur Tupai itu tak bersisa. Namun masih saja ada yang mengaku belum puas, bahkan salah satu kawan bernazar akan mencobanya di Indonesia bila mendapat Tupai akan dibuat bubur, mudah-mudahan rasanya sama dengan yang dihidangkan Padre Swinie.

Dry Port Impor...?!
Di Serian, beberapa pedagang dan pembeli dari Indonesia, mereka bertransaksi kebutuhan sehari-hari, karena lebih murah dan lebih dekat ke Entikong, Balai Karangan dan Beduai bahkan Kembayan yang merupakan jalur perbatasan . Di sini pun sedikit sekali melihat kendaraan roda dua.
Harga Sembako dibanding ke Pontianak atau Sanggau yang jauh dan harga barang selangit, Serian menjadi pilihan. Kota Besar yang paling dekat dengan Entikong-Indonesia tersebut menjadi pusat perbelanjaan yang menjanjikan. Bisa jadi jika Dry Port berdiri di Entikong, maka Serian menjadi Bandar yang sangat maju. Nah, Indonesia kemungkinan di Balai Karangan, namun di Balai Karangan bertaburan produk Sembako dari Malaysia. Sama saja jika Dry Port berdiri maka impor semakin meraja lela.
Sayuran di Serian memang mahal, namun daging dan ikan yang diisukan berformalin sebenarnya lebih segar dari ikan kebanyakan di pasar Indonesia, harganya lebih murah. Terung Asam saja yang mahal, karena dari Indonesia, namun tak sedikit juga orang Indonesia membelinya kembali, tentu dengan harga yang juga mahal, tak apa asalkan sebutannya makanan luar negeri.
Entah mengapa setiap pemberitaan di media di Indonesia selalu memvonis produk jiran berformalin? Namun justru produk Jiran From Serian digemari. Kalau tidak percaya coba anda di warung sepanjang perbatasan Indonesia, belilah minuman kaleng, makanan ringan atau air mineral, dengan membaca tulisan di bungkusan, maka akan tahu asalnya darimana. Memang pepatah mengatakan, lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang, namun kalau batu turun terus menerus dari Gunung Merapi, orang Jogja-Jateng dan Jabar pasti mengungsi, iya kan?


Thursday, 19 January 2012

Buku yang pernah di bedah di UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, Fakultas Usuluddin dan Filsafat, bersama Prof. DR. Komaruddin Hidayat dan Muhammad Ridwan Lubis dari Pusat Litbang kehidupan beragama di Indonesia, Prof. DR. M. Iksan Tanggok, Direktur Pusat Kajian Kawasan Asia Timur,dan penulisnya sendiri Platti dari Ordo Paradominikan ini, judulnya terkesan sugestif (atau bagi beberapa pihak provokatif) diterjemahkan dari bahasa Inggrisnya yaitu Islam: Friend or Foe? Judul bahasa Inggris (teman atau musuh). Namun, judul di atas harus dilihat dalam latar belakang buku ini ditulis. Pertama-tama Platti tidak menulis buku ini untuk pembaca Barat yang tidak mengerti Islam yang karena gempuran media mempunyai persepsi yang salah tentang Islam. Suka atau tidak suka Barat masih mempunyai Islamphobia karena pemberitaan yang tidak seimbang tentang Islam. Peristiwa (9/11) atas runtuhnya menara World Trade Center (WTC) membuat banyak pihak Barat shock atas dimensi kekerasan yang dilakukan kelompok kecil mengatasnamakan Islam.

Pengetahuan tentang Islam
Kurangnya pengetahuan yang mendalam tentang Islam plus kehadiran kegiatan kelompok minoritas radikal membuat wajah Islam dipertanyakan di Barat. Platti yang telah bergaul dengan orang muslim selama 40 tahun dan bertempat tinggal baik di Eropa dan Kairo selama 40 tahun plus studinya yang mendalam tentang Islam mencoba untuk menjawab bagi orang Eropa, bagaimana wajah Islam sebenarnya menurut versi atau studi Platti. Tentu jawaban Platti positif tentang Islam: Islam bukan musuh! Kalau membaca secara teliti buku Platti orang akan mendapatkan kesan bahwa tiga agama monoteis (Islam, Kristen dan Yahudi) sebenarnya mempunyai konektivitas satu sama lain.

“Kalau kami boleh katakan lebih dalam ketiga agama itu mempunyai akar semitik yang kuat yang di dalam perkembangan sejarah bak hulu sungai yang satu (baca: akar semitik) akhirnya mempunyai anak sungainya masing-masing,” terang Islamolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Johanes Robini OP, terkait isi buku ini.

Dalam buku ini, Platti mau menjawab pembacanya di Barat: daripada sebagai musuh, Islam sebenarnya sangat dekat dengan tradisi Kristen dan Yahudi sehingga Barat tidak perlu melihat Islam secara salah dan bahkan melihat Islam sebagai musuh. Islam itu “sepupu” tradisi Kristen-Yahudi.

Robini menjelaskan, hal lain positif yang dilihat dari Platti adalah ia menempatkan Islam sebagai agama yang menjawab manusia soal keselamatan. Bagi dia pada akhirnya Islam mempunyai tawaran keselamatan kepada umat manusia. Ini tentu hal yang luar biasa karena dikatakan oleh seorang imam Katolik yang kalau tidak terbuka pikirannya tidak akan mengatakan demikian. Bagi Platti Islam mempunyai tawaran spiritual. Justru di sinilah bagi pihak Islam harus kembali ke “fitrah” yang intinya Islam adalah sebuah agama: Islam pada akhirnya adalah perjumpaan dengan Tuhan yang menawarkan keselamatan. Di sinilah Platti dalam analisanya mengatakan pada akhirnya adalah bahaya atau “bermain api” kalau agama diletakkan dalam tataran politik atau digunakan untuk propaganda politik.

Persoalan yang sangat hangat mengenai jihad (hal; 91-109) dianalisis Platti dengan bantuan tokoh-tokoh Muslim yang otoritatif (Al-Bouti, Tariq Ramadan, Mohammed Talbi) bahkan bukan hanya diskusi di jaman modern melainkan diskusi klasik abad pertengahan. Ini juga kekuatan buku Platti: analisis historis yang kayak arena pengetahuan beliau mengenai dunia Islam bahkan klasik sekalipun.

Pembaca Indonesia pada akhirnya bisa menikmati buku ini yang harus diletakkan dalam konteks dunia Barat yang tidak mengenal Islam bahkan sudah sekuler dan kadangkala tanpa pengetahuan yang mendalam membuat sebuah penilaian yang akibatnya bisa fatal sehingga “image” islam dimengerti secara salah. Platti sebagai imam Katolik tentunya karena keyakinannya akan dimensi spiritual Islam yang bisa memberikan kontribusi yang luar biasa pada perkembangan dunia manusia perlu angkat bicara supaya Islam jangan salah dimengerti banyak pihak.

Memang kenyataan pahit harus dialami manusia pada akhir abad XX dan awal XXI yaitu semakin gencarnya gerakan fundamentalisme yang meski hanya sekelompok kecil namun selalu menjadi masalah buat semua orang mengenai otentisitas agama-agama. Pesan Platti sederhana: otentisitas agama adalah jawaban semua agama untuk membuktikkan bahwa agama itu asli dan punya tawaran yang berarti.

Untuk kita di Kalbar kedatangan Platti nantinya bersama direktur IDEO (Dominican Institute of Oriental Studies) Jean Jacques Perennes OP sangat mempunyai makna. Keduanya adalah imam Katolik tetapi hidup lebih dari 20 tahun di dunia Islam. Pengetahuan mereka akan Islam juga pergaulan mereka dengan saudara-saudari Muslim tentunya merupakan saksi hidup bahwa setiap perjumpaan yang jujur akan mengubah seseorang, “Mereka adalah saksi hidup bahwa fanatisme bukan jawaban di jaman kita dan semua orang bisa menjadi orang yang terbuka kepada sesama dengan syarat: keterbukaan hati sebagai dasar yang tidak lain adalah kejujuran dan pengetahuan yang cukup dalam akan yang lain,” tukas Robini.


Platti OP, Emilio, Islam, Kawan atau Lawan? Jakarta: CRID & PUKKAT UIN, 2010 (xviii+320 halaman)

Pernah diterbitkan di Borneo Tribune

Sunday, 15 January 2012

Bohong besar kalau kita merdeka, kita sebenarnya masih hidup di alam penjajah. Konflik kepemilikan tanah (Agraria)yang belakangan terjadi, memilukan. Mirip dengan sistem yang dilakukan Penjajahan Belanda. Dulu Belanda merampas tanah rakyat pendekatan terhadap pemimpin lokal. Bagi kerajaan atau pemimpin yang tamak dengan upeti, tidak terjadi perlawanan, bahkan kekuasaan kerajaan dibiarkan diobok-obok Belanda, banyak simbol kerajaan dikolaborasikan dengan Belanda, rakyat dibiarkan bekerja dan menjadi kuli ditanah sendiri,mirip dengan sekarang kan?, .Namun tidak sedikit yang menolak, sehingga pecah perlawanan terhadap Belanda.


Fenomena perampasan tanah
Rakyat yang selama ini tenang 'diganggu' pemilik modal (Kapitalis)yang ingin mengeruk kekayaan alam dengan merampas tanah rakyat untuk kepentingan pribadi. Kaum Kapitalis banyak yang menggunakan moncong senjata aparat penegak hukum untuk menakuti rakyat, dengan alasan keamanan investasi, namun moncong-moncong tersebut memuntahkan pelurunya, yang ironisnya dibeli dengan uang rakyat. Banyak kasus terjadi,penghujung 2011 dan awal 2012 seakan perang antara penjajah dan rakyat kembali pecah, korban penembakan berjatuhan.Fenomena perkebunan dan pertambangan yang merangsek semakin mengepung kenyamanan hidup masyarakat, tidak sedikit,tanah mereka di rampas hanya untuk kepentingan pemilik modal.

Belajar dari Konflik Diponegoro
Bagi Indonesia, Diponegoro Pahlawan. Belanda menganggap Diponegoro itu pemberontak,karena melawan kebijakan mereka. Diponegoro tidak mau tunduk lantaran masih memikirkan kesejahteraan rakyatnya, menghormati adat istiadat leluhurnya. Namun Belanda yang terlanjur doyan dengan ramuan penghangat badan, ingin setiap jengkal tanah di Indonesia ditanami bumbu-bumbu. Tidak mempedulikan kalau itu kuburan, atau ada tanaman lain milik rakyat. Diponegoro tetap pada pendiriannya.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830. Kemudian dibuang ke luar Jawa.

Keadaan sekarang pun tidak berubah, bagi siapa yang melawan kebijakan pemilik modal akan 'dibuang' nyawanya, atau paling tidak diancam penjara, sehingga tidak sedikit yang mencari aman. Anehnya pemimpin daerahpun seakan tidak berkutik, melihat ulah kaum kapitalis yang menindas rakyat dengan merampas tanahnya. Ayo, amankan tanah masing-masing, penjajahan masih banyak di sekitar kita, jangan beri tanahmu kalau tak mau miskin dan melarat dikemudian hari.

Monday, 9 January 2012

"Pulanglah...." ujar Ibuku setengah berteriak lewat telpon genggam, "belum Bu, lihat kondisi akhir-akhir ini udah lumayan bagus, udah bisa makan bubur" jawabku. Memang kondisiku sejak resign dari tempat kerja cenderung menurun, tensi darahku labil, hampir 90 hari aku merasakan sakit yang tak jelas, panas tinggi namun tensi normal.Pernah merasakan dingin seperti masuk kotak pendingin, namun berkeringat sebesar biji Jagung. Tak tahu apa gerangan penyakit menyerang. Aku merenung setiap perkataan dan perbuatan ketika bekerja, hubungan dengan kerabat, orang dan sebagainya, rasanya tak ada yang membuat orang lain sakit hati.

Sejak terbaring, aku lebih banyak nonton televisi, membaca koran dan menunggui istri yang bekerja, untunglah masih bisa masak,dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, "Sudahlah yang penting bisa sedikit menggerakan otot-otot," gumamku. Menurut orang tuaku, walau sakit seberat apapun, Aku tetap memaksakan diri bekerja, samp[ai benar-benar tidak mampu bergerak.

Sakit Siklus
Sejak 1992, sakit tak pernah Aku alami lagi. Namun akhir 2011, merupakan ujian terberat setelah aku menikah, istriku tidak kaget, karena sudah aku ceritakan perihal kondisi badanku. Dia sangat siap, walau sekali-sekali aku melihat kejenuhan di raut mukanya, bekerja sampai malam, kalau pulang menunggui suami sakit. Sungguh pekerjaan yang tidak mengenakan. Pekerjaan yang tidak pernah dicita-citakiannya sejak kecil. Namun menurutnya inilah ujian awal pernikahan kita, "Maafkan abang, lalu sakit begini,", " Tak apa abang istirahat yang cukup, dan minum obat teratur biar cepat sembuh, jangan pikirkan pekerjaan," ujarnya lirih.

Mengandung
Ditengah sakit mendera, suatu pagi aaku terbangun karena istriku pagi-pagi sekali ke kamar mandi, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukannya, setidaknya setelah menikah. Kami sering bermalas-malasan di tempat tidur sambil bercanda dan menyusun rencana hidup, kalau bangun pagi, bertukar cerita mimpi malam dan mengungkapkan impian. "Bang, positif...!," ujarnya sambil menunjukan alas tes manual padaku yang masih berselimut. Syukurlah gumamku dalm hati, ternyata kerja kerasku selama ini membuahkan hasil. Berarti sembilan bulan ke depan aku tak boleh sakit apalagi sampai terbaring seperti ini. Senyum merekah dalam hatiku, seolah ingin sembuh waktu itu, namun tidak berdaya, aku tetap saja merasakan dingin dan pusing serta mual. Untuk memastikan, kami ke Bidan di kampung itu, dan hasilnya benar-benar positif, istriku diberi secarik kertas dari bekas bungkusan susu, sementara buku KMS belum ada. Kami pulang, dalam balutan jaket, hatiku tersenyum, ya tersenyum saja.

Merry Christmas Lemas

Beberapa hari menjelang Natal, kami memutuskan pulang ke Kembayan, kampung istriku. Aku lebih dulu diantar kerabat yang kasihan melihat kondisiku semakin memburuk. Badanku turun 15 kilogram. Kumisku tak terawat apalagi rambut dan aroma badan, benar-benar gembel. Aku memaksakan untuk mandi agar aroma di dalam Mobil tidak terlalu menyengat. Jam 12.00 aku diantar ke tempat mertua, di sana masakan dan minuman hangat serta minyak urut siap, namun makanan tak satupun aku sentuh, aku muntah lagi dan terbaring hingga malam menjemput. Ibu mertua memasakan bubur namun sekin sendok dimakan begitu juga keluar, sepertinmya siklus lancar, lalu ke Puskesmas, tukang urut dan sebagainya dilakukan, ketika istriku menyusul liburan. 24 Malam kami menikmati natal, aku sempat mengantar istri ke salon, lagi-lagi ibu dikampung menelpon dan minta Aku pulang untuk berobat, Aku oke-kan selesai Natal, karena aku ingin melewati liburan natal bersama istri tercinta, ini moment pertama setelah pernikahan kami.

Istriku membelikan Kemeja bermerek lengan panjang, harganya lumayan, karena merek terkenal. Kemeja kesukaanku. Dia membeli gaun mini kesukaanku, yang setiap kejakarta aku belikan. Kali ini Krem warnanya dia beli bersama kemejaku. Kami ingin memakainya bersama hari Kelahiran Yesus Kristus. Aku senang, dalam sakit mendera aku tersenyum dan mengecup kening istriku di kamar, "terima kasih sayang'" tak terasa bulir bening keluar dari sudut mataku.

Malam tanggal 25 aku ke Gereja bersamanya, menggunakan batik Pink dia senang, tersenyumdan memelukku, namun suasana hatiku tidaktenang karena balutan penyakit, aku selalu keringat dingin, namun berusaha tidak membuatnya kecewa, "Paling tidak malam ini," gumamku. Aku berusaha duduk didekatnya, kami duduk didekat pintu masuk, Perayaan Natal berjubel. Ukuran gerejayang tak sebanding membuat umat, termasuk aku tidak nyaman. Harusnya natal digereja baru persis di depan rumah, namun gereja yang dibangun mirip gereja-gereja di Eropa tersebut belum selesai, sehingga Gereja sementara yang hanya menampung 100 orang digunakan. Aku tidak konsentrasi, aku keluar gereja dan duduk di teras Puskesmas yang kebetulan berhadapan. banyak yang menyalami dan menegurku, menanyakan kondisi serta kabar, karena kami menikah Gereja di Kembayan, orang-orang di situ banyak mengenaliku, karena wajah sedikit unik, pucat tanpaekspresi, apalagi kalau bukan Demam tak tentu rudu, namun kupaksakan tersenyum biar mereka tak kecewa.

Setelah komuni aku putuskan ajak istriku pulang, biar tidak terlalu malam, aku (*maaf)muntah lagi tiba di rumah, kembali ke tempat tidur kupikir menjadi pilihan tepat. Pagi, ingin aku sembahyang karena istriku sudah bangun, dia sudah di depan kaca, mengajakku sembahyang, aku bangun dan mandi, menggigil yang aku rasakan, bulu-buluku merinding. Aku paksakan memakai baju kemeja yang dibelinya, kusemprot minyak wangi, kupasang sepatu, kami ke gereja, Gaun Krem membuatnya semakin cantik walau sedang hamil. Sampai di ruang tamui aku teduduk, aku mau pingsan, mukaku dingin, badanku meriang aku terduduk di kursi tamu, istriku trerlihat kecewa, "Yang, kita pakai di rumah saja ini pakaian, abang tidak kuat," Sangat berat hatinya untuk mengiayakan namun apa mau dikata, aku tidak bisa bangun, Aku minum air putih dan mencoba bangun menuju ruang TV di lantai atas, dan terbaring di sana. Selamat Natal 2011 gumamku, mimpipun menjemput, demam kembali menyerangku, panas tinggi, sehingga kompres keningku selalu kering dan berkali-kali dibasahi.

Berobat
Tiga hari setelah perayaan Natal, aku pulang kami menyewa Mobil, karena istriku tidak boleh banyak bergerak, perutnya semakin membesar, dia juga sekali-sekali mual. Kami kembali ke Pusat Damai, aku langsung ke Kangking, Ketapang. Empat jam jaraknya, membuat kondisiku semakin memburuk, aku tak bisa tersenyum, bahkan pandanganku kabur, kepalaku berdenyut, leherku seperti ada yang memukuli, telapak kakiku seperti menginjak bongkahan es, ah kenapa badan ini. Aku berusaha, ke kampung, naik motor hujan sampailah di Kangking tanah kelahiranku. Ibu dan bapak serta kerabat yang harap-harap cemas tersenyum kecut melihat kondisiku, yang sudah pucat pasi, segera Ibu memasak bubur, bapak mencari ramuan. Tak kuhiraukan pesta pernikahan di Rumah sebelah, yang juga kegaduhan karena kedua mempelai pingsan setelah pemberkatan, hampir satu hari mereka bergelut dengan kecemasan, kedua mempelai tidak sadar, hingga tengah malam kudengar alunan musik dangdut menggema pertanda keduanya sudah sadar, mungkin lagi 'belacek'. Aku tak bisa tidur, dingin menyelimuti, mebngalahi ketebalan selimutku. Bapak dan Ibu serta keluarga tidur bersamaku,malam itu mimpi buruk dan ketakutan menyelimutiku. Ketakutan akan kematian, ketakutan akan penghakiman di akhirat karena aku tak mampu melawan penyakit, aku gampang menyerah, aku tidak kuat menghadapi hidup, kalah dari orang cacat, orang buta, orang miskin. Aku mulai ingat akan Tuhan, dan berdoa, "Tuhan kalau boleh, beri aku kesempatan untuk hidup kembali aku akan membahagiakan istri anak dan keluarga ku, serta memujiMU," Rosario hadiah pernikjahan tidak pernah hilang di tanganku. Istriku selalu aku ingatkan agar membawa benda tersebut kemanapun pergi termasuk ke alam mimpi.

Musim buah, membuat seleraku bangkit, bubur yang dimasak selalu ku lahap, orang kampung silih berganti memberi dorongan, ada yang memberi ramuan, dan aku seduh dengan air panah di dalam buluh, kuminum setiap hari tiga kali, dua sampai tiga hari selera makanku bertambah, buah-buah aku lahap, namun mungkin selamanya aku akan bersahabat dengan Kunyit, Serai dan Cabe, bumbu yang selama ini aku musuhi, tak bisa ku santap lagi. Selamat datang 2012.

Sunday, 12 June 2011

Tangan ku tak lincah lagi, oretan pena yang tak lagi lentur, setelah sekian lama meninggalkan dunia tulis-menulis. Setiap saat hasrat muncul, menulis yang terlihat dan dirasakan, ingin mengoret pena namun selalu saja iba tak kuasa. Masalah perut yang membuat aku menjadi begini, seolah tidak mau lagi kata idealisme, hiruk-pikuknya kota, glanmournya para penguasa, nikmatnya setiap sudut warung kopi.
Aku tak bisa hidup dengan idealisme, omong kosong, anak istriku mau makan apa?, gumam ku suatu ketika, profesi ini sangat mulia, indah dan disukai rakyat dibenci orang berdosa, takut saja aibnya terbongkar di publik. Namun lebih dari itu, kehidupan hanya satu kali, nasib diri sendiri ditentukan tangan sendiri, pena memang bisa merubah nasib, namun manusia selalu menghalanginya. Nasib…ah…hanya kata yang membuatku muak dengan idealism semu, yang dibalut kemunafikan, kotor namun terlihat tak bercela. Puih….!
Asa ku berubah ketika mataku terbelalak melihat kawan-kawan yang sudah jauh melangkah, mengendarai nasib, bukan dikendarai nasib. Sampai akhirnya aku putuskan untuk merubah jalur, berkendara dengan sedikit kemunafikan, merusak, menipu entah apapun nama yang disematkan bagiku, tak peduli. Saat ini aku hanya ingin keluargaku tak kencang dengan hidupmengkritik, tak kenyang hanya hidup dengan mencela, jadilah pelaku hidup, meski dicaci maki, tak hanya mulut dan tangan yang bicara tapi hati dan perbuatan adalah aksi nyata untuk berbagi kebahagiaan, bukan kebahagiaan semu lho. Bisa juga disebut mengikuti jejak tikus-tikus negeri yang mencuri uang di brankas negari kemudian menikmatinya di belahan dunia lain, Singgepor (Singapura), Malay, London bahkan Amerikano,Spanyola, Baliano (Bali bah eh).
Menguasai ilmu jurnalistik berarti menguasai dunia, namun penguasa para jurnalis secara nyata menguasai dunia, bisa keliling dunia bahkan membeli sebagian dunia. Lihat saja, lobinya sampai mendirikan partaipun bisa. Disini sebenarnya hati nurani semakin hilang, saat tujuan sudah dibalut kepentingan, saat idealism sudah beralih ke kepentingan perut, ya… serakah jadinya.
Jika situasi seperti ini, mari kita sama-sama munafik, sama-sama menjual diri, sama-sama merusak tatanan negeri yang kita ukir lewat moncong peluru para pahlawan. Sudahlah terlalu banyak ngawur saya menulis…ini hanya kegusaran hati melihat pekerjaan menumpuk, bingung mau marah dengan siapa…? Selamat bermain dengan idealisme..jangan marah, namanya juga omong kosong, hargai hidup berusahalah selagi bisa. Betul…?!

Tuesday, 30 November 2010

Hentakun
Borneo Tribune, Menjalin

Segala keluh kesah ratusan guru tertumpah pada pemimpin mereka, karena ke mana lagi pahlawan tanpa tanda jasa itu mengadu.
Dalam seminar pendidikan bertajuk ‘Memahami peran strategis guru dalam mewujudkan guru profesional bermartabat dan sejahtera’, yang dilangsungkan di Aula Gereja Katolik Paroki Menjalin Kabupaten Landak, Kamis, (25/11), rbuan guru dipersilakan bertanya mengenai apa saja terhadap pembicara, yang diantaranya Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot.
“Anggota DPR boleh studi banding, mengapa kami tidak boleh, kami juga ingin melihat langsung bagaimana rasanya naik Kereta Api sehingga kami bisa menjelaskan ke peserta didik apa dan bagaimana Kereta Api, begitu juga Pesawat Terbang, atau kendaraan yang tidak ada di Kalbar, karena selama ini kami menjelaskan hal tersebut juga hanya mengandai-andai,” terang Damianus (45) Guru SD Sepahat Kecamatan Menjalin.
Ada juga permintaan perwakilan Guru Kecamatan Kuala Behe, agar guru-guru yang dari luar tidak diberi kemudahan pindah sebelum masa pengabdian sepuluh tahun, karena akan merepotkan guru asal setempat dalam mengatur penjadwalan pembelajaran
Selain itu, keluhan terhadap ruang kelas yang kurang sehingga satu kelas mencapai 60 siswa, hal tersebut menyulitkan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran. Beberapa keluhan lain semua ditumpahkan
Tak pelak lagi, Bupati ketika itu mesti menyandang tugas ganda, disatu sisi menjawab pertanyaan ilmiah dalam konteks sebagai narasubner, di sisi lain menjawab keluhan guru-guru. Praktis saja solusi bisa mereka temukan, segala pertanyaan dan keluhan tuntas terjawab.

Sebuah Komitmen
Keinginan untuk menjadi Kabupaten terdepan dalam hal kemajuan menjadi sebuah komitmen. Sejak menjadi Kabupaten tahun 1999 Landak yang beribukota di Ngabang mulai berbenah. Kabupaten yang dijuluki kota Intan itu, sejak kepemiminan H. Agus Salim sebagai Bupati, Kemudian Cornelis yang kini menjadi Gubernur Kalbar, menunjukan kemajuan pesat.
Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot, menuturkan, awal berdirinya kabupaten Landak 10 tahun lalu, begitu tertinggal, artinya begitu sedikit yang yang anggaran dari Pemerintah Kabupaten Pontianak yang menjadi kabupaten induk.
Infrastruktur memprihatinkan, sarana prasarana pendidikan, irigasi, pertanian semuanya perlu pembenahan, “Ketika Saya menjadi Kepala Dinas pendidikan, rumah sekolah banyak yang roboh karena kondisi yang rusak, sehingga ketika mejadi Kabupaten sendiri, Pemkab Landak kewalahan membangun dan memprioritaskan sarana dan prasarana mana yang mesti didahulukan karena keterbatasan,” terang Adrianus.
Menjadikan sumber daya manusia (SDM) Landak yang Cerdas adalah cita-cita Adrianus, menurutnya jika manusia cerdas maka pembangunan pun akan lebih baik. Ketika Cornelis menjadi Bupati periode pertama, pembangunan infrastruktur mulai dirintis, termasuk sarana prasarana pendidikan dan pembangunan lainnya, nuansa artistik di setiap bangunan pemerintah menjadi ciri khas tersendiri, gedung DPRD dan kantor Bupati yang dirancang mirip Rumah Betang Suku Dayak.
Rintisan tersebut dilanjutkan periode Adrianus Asia Sidot, program utama pembangunan yang diprioritaskan bidang pendidikan. Doktor lulusan Universitas Padjajaran Bandung itu, komitmen mencerdaskan sumber daya manusia (SDM) Kabupaten Landak, karena menurut Dia, SDM modal utama. Tahun 2000, ketika dirinya menjabat Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Induk, telah memprioritaskan pendidikan, karena melalui pendidikan suatu daerah bisa maju.
“Saat itu ada sejumlah 387 SD yang 70 persen kondisinya rusak berat malah ada bangunan roboh. Saya berfikir, bagaimana memobilitas dana untuk memperbaiki gedung sekolah itu?” tutur ayah tiga anak itu.
Laki-laki penggemar off road itu secara perlahan membangun sarana dan prasarana pendidikan ketika sudah menjadi Bupati, sehingga 2009, seluruh sekolah yang rusak diperbaiki, jumlahnya bertambah menjadi 422 unit.
Tidak hanya Sekolah Dasar yang mesti diperhatikan, pendidikan anak usia dini juga perlu disentuh, saat itu hanya ada 1 (satu) Taman Kanak-Kanak (TK) di Ngabang, saat ini sudah berkembang ada 1 TK Pembina di setiap kecamatan. Selain juga dibangun SMP (Sekolah Menengah Pertama) yang pada saat itu hanya ada 20 SMP Negeri dan Swasta, sehingga tidak menjangkau pedalaman.
Kini, kata suami Bernadeta itu, di seluruh ibukota kecamatan diupayakan ada 2 SMP Negeri. Bahkan hingga desa-desa terjauh diupayakan pembangunan SMP Negeri. Begitu juga dengan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), tahun 2000, hanya ada 5 SMA Negeri di Kabupaten Landak, sekarang sudah ada 20 SMA dan 4 SMK Negeri.

Kebutuhan Mendesak
Selain infrastruktur pendidikan yang diperbaiki yang perlu ditingkatkan juga adalah kualitas guru. Untuk tenaga pengajar, diutamakan lulusan Strata satu. Guru-guru SD yang belum SI ditingkatkan pendidikannya menjadi SI, baik melalui in job training (pendidikan guru dalam jabatan) dan in house training (tugas belajar).
Agaknya, Adrianus, sudah mengantisipasi pensiunan massal guru-guru Inpres tahun 1970-an, sehingga pembukaan formasi calon pegawai negeri sipil tahun ini tenaga kependidikan sebanyak 110 orang dan tenaga kesehatan 65 orang. Cara lain untuk persiapan dengan memberikan beasiswa kepada guru-guru untuk tugas belajar ke universitas-universitas berkualitas, seperti Universitas Pendidikan Indonesia-Bandung, Universitas Kristen Satya Wacana -Salatiga, Uiversitas Negeri Yogyakarta-Yogyakarta. Saat ini jumlah penerima beasiswa 800 orang.
Selain guru-guru, ada juga pelajar dengan pilihan ilmu kedokteran dan pertanian. Beasiswa ini menelan anggaran sebesar Rp.12 Miliar setiap tahunnya. Untuk membiayai ini, Pemkab mengalokasikan dana pendidikan hingga 30 persen dari total APBD. Untuk menghindari kegagalan program beasiswa ini karena gugurnya peserta di tengah studi, maka Pemkab akan memperketat proses seleksi penerimaan, walau tetap memprioritaskan guru-guru.
Meningkatkan mutu sekolah menjadi hal mutlak di Landak, maka, kata Adrianus, Pemkab berupaya mengarahkan agar terciptanya daya saing antar sekolah, “ Dengan menciptakan kompetisi antar sekolah dimana ditekankan ciri khas unggulan sekolah,” ujar Adrianus. Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa sekolah tidak mutlak hanya menekankan pada prestasi akademik saja. Tetapi juga aspek lain unggulan sekolah, misalnya seni dan olahraga. Semua ini bisa tercapai jika sekolah juga sedikit mandiri dengan memobilisasi dana dari siswa. Walau agak sulit untuk diaplikasikan pada sekolah-sekolah di pedalaman dimana pendapatan masyarakat nya masih rendah, namun secara bertahap mulai dikembangkan.
Saat ditanyakan soal arah pendidikan di Kab.Landak dimasa depan, Adrianus mengatakan bahwa, pendidikan terutama lanjutan atas akan fokus pada membangun SMK (sekolah Menengah Kejuruan). Terutama berbasis pertanian dan tidak terlalu variatif dalam jurusan yang tersedia sehingga SMK tersebut efisien dan fokus pada kesiapan keterampilan lulusannya, “Saat ini, saya minta guru-guru memperkuat SMK,” jelas Adrianus. Agar efisien dalam anggaran, SMK disediakan sesuai arah pembangunan Kabupaten Landak, misal SMK jurusan pertambangan, pertanian atau otomotif sesuai merk mesin yang ada di pasaran.
Untuk pendidikan tinggi, Kab.Landak sedang berupaya membangun politeknik-politeknik yang lulusannya akan berguna di Kab.Landak, semisal Politeknik Pengembangan air minum (kimia terapan) atau perrtanian, perkebunan dan otomotif.
Keluh kesah kaum umar Bakri itu, hanya ingin agar cita-cita bersama menjadikan Landak terdepan dalam pengembangan mutu SDM terwujud.
Hentakun
Borneo Tribune, Menjalin

Moment peringatan Hari Guru di Menjalin menjadi kenangan tersendiri bagi Frederika Cornelis.
"Saya hadir di sini karena saya juga guru, jadi saya sangat menghargai profesi ini karena sangat mulia," terang Frederika Cornelis yang juga mantan guru yang kini menjabat Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar, ketika menghadiri upacara peringatan Hari Guru se Kabupaten Landak di Kecamatan Menjalin, Kamis (25/11), Frederika juga mengenakan batik khas PGRI, putih berukir coklat.
Bertindak sebagai inspektur Upacara Bupati Landak Adrianus Asia Sidot. Ribuan guru memenuhi lapangan bola Pastoran Paroki Menjalin tersebut.
Era modern ini, menurut Frederika, guru mestilah meningkatkan kualitas menjadi guru yang bersertifikasi, dan menjaga loyalitas dalam melaksanakan tugas.
Dia berharap tidak ada guru yang pindah atau mengeluh ketika bertugas di daerah terpencil atau di daerah terjauh dari pusat kota, karena pekerjaan guru itu mulia mencerdaskan kehidupan bangsa, maju mundurnya generasi sebuah daerah tergantung bagaimana peran para guru.
Namun demikian, dia mengharapkan pemerintah dalam hal ini Badan Kepegawaian Daerah untuk lebih teliti dalam menempatkan guru dalam penugasan, apalagi dalam waktu yang lama, terutama guru perempuan atau suami istri yang seprofesi guru, "Agar jangan sampai baru setahun bertugas lalu minta pindah, jadinya tidak efektif," terang Frederika.
Ibu dua anak itu tidak menampik jika ada guru yang mencari penghasilan tambahan, namun dia berharap jangan sampai melalaikan tugas utama sebagai pendidik, apalagi sekarang guru itu profesi. "Kita berharap jangan ketika jam mengajar lalu mengojek," tukas Frederika.

Sarana Introspeksi
Sementara itu, Bupati Landak Adrianus Asia Sidot meminta momentum Hari Guru dijadikan para guru sarana intropeksi diri untuk perbaikan sumbangan pendidikan bangsa.
"Jadikan momentum ini sebagai introspeksi. Mudah-mudahan guru mampu dan terus memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” kata Adrianus.
Menurut Adrianus, ada tiga hal yang penting dalam momentum Hari Guru dan HUT PGRI, yakni pertama merupakan momentum yang tepat untuk merenungkan atau merefleksi diri terhadap perjalanan langkah panjang yang telah dilalui.
Kedua, bersama refleksi tersebut adalah upaya untuk introspeksi atas langkah-langkah yang selama ini telah dilakukan.
Ketiga, sebagai upaya untuk menatap masa depan yang lebih baik atau cita-cita luhur seperti saat digagasnya nilai-nilai yang kini dijadikan tonggak peringatan hari guru nasional.
"Dengan peringatan ini, kami mengharapkan dukungan aktif seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan mengoptimalkan peran guru sesuai dengan tema peringatan tahun ini adalah memacu peran strategis guru dalam mewujudkan guru yang profesional, bermartabat dan sejahtera," tegas Adrianus.(Antara)

Wednesday, 1 September 2010

Ditulis: Gero Simone, Bonn University Germany

Pemuda tertembak oleh seorang eks polisi“, Hentakun menerima pesan singkat atau SMS hari itu. Hentakun adalah wartawan Borneo Tribune di Pontianak, setiap hari ia mencari story yang menarik.
Saat itu ia berada di kantor Gubernur. Setelah membaca SMS HP-nya di masukkan kembali ke saku celananya, karena masih mengikuti pertemuan tentang HIV/AIDS di ruang Wakil Gubernur.
Kerja wartawan seperti itu rumah tangga yang pagi-pagi pergi ke pasar membeli bahan-bahan kebutuhan dapur untuk keperluan menyiapkan makanan. Begitu pun bahan-bahan berita atau story di dapur Borneo Tribune merupakan liputan wartawan yang sehari-harinya bertugas di lapangan. Mereka berangkat awal dan pulang ke kantor siap dengan bahan berita yang penting untuk dituliskan.
Sekira jam lima pagi sambil Hentakun pergi jogging, dia memikirkan tema yang mana bagus untuk ditulis. Hari ini Hentakun berdiri di tengah-tengah wartawan lain di ruang rapat Wakil Gubernur. Dengan bloknot dan HP untuk merekam dia mewawancarai Christiandy Sanjaya. Raut wajah Hentakun sangat serius. Dia mesti mengejar waktu karena Wakil Gubernur mempunyai jadwal padat.
„Meski demikian yang terpenting untuk wartawan“, kata Hentakun, „adalah sopan dan hormat. Sebab bila asas pergaulan tidak diperhatikan, maka narasumber tidak mau menjawab pertanyaan saya lagi.“
Sehari sampai tiga janji dipegangnya. Oleh jaring-jaring teman wartawannya dia selalu diberitahukan. Karena itu penting sekali merawat kontak-kontak. „Lagipula perlu fleksibel, profesional dan disiplin“, Hentakun menambah, „Rupanya watak wartawan beragam sekali.“
Kira-kira jam lima sore kantor Borneo Tribune sudah terlihat ramai. Satu persatu wartawan tiba di kantor dan mulai menyiapkan bahan beritanya. Biasanya, sebelum seseorang mengetik sesuatu ke dalam komputer atau laptopnya, mereka membaca beberapa koran dulu, melihat apa yang ditulis oleh persaingan dari media lain.
Hawad Sriyanto menetapkan untuk tema-tema ekonomi. Pula dia mempelajari beberapa koran seperti Kompas atau Majalah Tempo sebelum dia start dengan menulis. Setelah membaca, sejenak Sriyanto mendiskusikan tulisan di koran tersebut. Mereka bisa mengangkat angle lain yang belum ditulis di koran itu yang bisa disampaikan ke pembaca.
Tadi pagi dia pergi ke pasar untuk mencari informasi dari sumber pertama. „Saya sering ke sini karena penjual merasa perubahan ekonomi, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok paling cepat,“ kata Sriyanto.
Sekarang semua bahan-bahan sudah diurus dan tahap masak akan mulai. Segala papan tombol jari di kantor berpijar. Setiap wartawan menulis tiga sampai empat berita sehari. Penting bawah penulis mempunyai keahlian jurnalistik. Seorang wartawan harus mengetahui bermacam-macam tulisan seperti strike news, feature atau comment.
Khususnya pada tema-tema ekonomi mesti menjelaskan hubungan kompleks untuk pembaca supaya dimengerti. „Saya lebih senang bila bisa menyelesaikan masalah atau memberikan solusi untuk orang-orang. Itu menyejukkan hati saya,“ kata Sriyanto.
Seperti itu banyak berita baru lahir dari pena-pena 30 wartawan yang bekerja untuk Borneo Tribune disebar utuh di Kalbar. Berita yang diisi dengan peristiwa hari itu. Tetapi karena jumlah halaman terbatas tidak semua berita bisa masuk koran.
Mana saja berita yang layak masuk menurut Andry, yang sudah bekerja sejak Borneo Tribune didirikan tahun 2007. Sebelum menjadi wartawan, dia adalah aktivis mahasiswa dan sering melakukan demonstrasi. Barangkali sesuai perjuangannya, maka dia ditunjuk sebagai redaktur pelaksana.
„Sekarang saya berpikir baginya menulis lebih baik dari triakan seribu orang. Karena itu saya memulai sebagai wartawan di Borneo Tribune,“ kata Andry.
Hari ini dia yang memperbaiki dan membumbui berita lagi. Selain editing dia pula memilih tulisan mana yang masuk ke halaman tertentu. Borneo Tribune terbit dengan 16 halaman.
Andry mengaku bahwa dia merasa seperti wartawan setiap kali dia keluar rumahnya: „Saya cuman bisa bersantai dan adalah ayah di tengah-tengah keluarga saya.“ Karena tanggung jawab redaksi ada di pundaknya.
„Saya sangat senang bekerja untuk Borneo Tribune karena saya dapat mengekspresikan diri saya. Kami juga bebas disini. Saya bisa menulis atau mengritik yang kumau. Akhirnya kritis penting sekali untuk mengubah segala kekurangan,“ kata Andry.
Bila sebuah koran yang hanya ada tulisan saja akan bosan sekali. Maka disini foto-foto merupakan komponen hakiki di Borneo Tribune. Biasanya wartawan sendiri yang memotret langsung di tempat liputan.
Disamping mengandalkan fotograper seperti Ulla Asri. Dia pergi setiap hari untuk mencari tema-tema yang menarik. „Sekarang Ramadan. Jadi sekarang tidak banyak acara dan saya sendiri perlu menjadi kreatif,“ katanya.
Tahap berikutnya menyatukan tulisan dan foto-foto. Malam semakin larut, setelah melakukan editing, Andry menunggu layout bekerja. Pekerjaannya membuat berita-berita berselera. Setiap layouter menanggani tiga sampai empat halaman dalam satu edisi.
Umumnya para layouter belajar secara autodidak. Fakun yang paling berpengalaman. Sudah hampir 20 tahun dia bekerja sebagai layouter. Dia bergabung sejak awal di Borneo Tribune. Fakun yang mendesai lengkap rupa Borneo Tribune.
Simbol koran ini pula idenya. „Burung itu khas untuk Kalimantan (Borneo) dan melambangkan kesetiaan dan kegagahan,“ katanya.
Bagaimana penyiapan sampai ke tangan pembaca? Proses terakhir adalah pencetakan dan pengiriman. Di lantai bawah ada mesin cetak koran dengan ukuran besar sekali.
Jam 11 malam koran mulai dicetak. Sebelum dicetak, setiap halaman dipasang di plat. Tiap malam raksasa itu bisa melahap 11,3 kilometer kertas. Itu kira-kira 80 kilometer per minggu, rute dari Pontianak ke Mempawah.
Pada jam satu malam akhirnya edisi baru sudah siap edar. Berita Hentakun tentang HIV/AIDS muncul sebagai tema top di halam depan. Lebih dari setengah hari yang lalu waktu dia mewawancarai Wakli Gubernur.
Hentakun tidak mengetahui semua itu. Dia pulas di tempat tidurnya. Karena empat jam lagi dia akan membangun dan memikirkan tentang apa yang disajikan kepada pembacanya. Begitulah seterusnya.

Thursday, 19 August 2010

Hentakun

Borneo Tribune, Pontianak

“…Entah apakah benar aku sudah bertindak bijaksana atau Panna? Mencoba mempertimbangkan baik buruknya suatu tindakan. Atau mungkin aku sudah mewujudkan cinta kasih atau Metta? Mencoba menyelamatkan nyawa si bayi. Aku terus melamun sambil memikirkan tindakan yang telah kulakukan. Bahkan tiba-tiba aku teringat kutipan bait suatu sutta: sebagaimana seorang ibu menyelamatkan putra tunggalnya. Hahaha, sepertinya sudah ngawur. Aku menertawakan diri sendiri karena terlalu mengaitkan ini itu. Sepertinya aku harus banyak bertanya ke Bhante Mon. Aku tersenyum sendiri membayangkan kemungkinan ekspresi Mon atas sedikitnya pengetahuan Dhamma-ku…”

Dalam agama Budha, Panna (dibaca pannya) artinya kebijaksanaan, Metta artinya cinta kasih.Penggalan cerita pendek (Cerpen), di atas, berjudul, ‘Sebuah Cerita Dari Apotik’, mendapat Award Pesta Perak Dharma Suci tingkat nasional, ditulis Vita Felicia, gadis kelahiran Pontianak 21 Desember 1988, adalah kakak kandung pelukis Internasional asal Kalbar, Bryan Jevoncia.

Vita, begitu Dia dipanggil, adalah sarjana farmasi yang sekarang kuliah profesi apoteker di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Universitas itu adalah universitas Katolik milik Ordo Serikat Yesuit. Dituturkan Vita, ide cerpen ini muncul dari kuliah tentang penyalahgunaan obat dan pengalaman nyata. Jelas seperti dalam penggalan cerpen, yang menceritakan seorang laki-laki membeli obat maag dengan alasan untuk anaknya yang sakit, kemudian giliran seorang perempuan juga, yang membeli obat maag dengan merek Cytotec, namun si ‘Aku’ dalam cerpen itu tidak mau memberikan lantaran curiga kalau obat maag yang dibeli bukan untuk mengobati maag namun untuk aborsi. Cytotec adalah merk dagang obat yang mengandung zat aktif misoprostol dengan indikasi maag, namun dapat menyebabkan keguguran pada wanita hamil.

Terpanggil untuk menyelamatkan janin setidaknya untuk beberapa waktu, Si ‘Aku’ memberikan obat merek lain dengan khasiat sama yakni Sotatic. Obat tersebut adalah merk dagang obat yang mengandung zat aktif metoklopramid, dengan indikasi untuk mual dan muntah, aman bagi wanita hamil, namun wanita dan pria tersebut menolaknya.

Dalam Cerpen tersebut juga diceritakan tentang seorang wanita yang membeli kondom bersama seorang pria. Secara tersirat, Cerpen ini menceritakan keadaan yang sebenarnya, sebuah kritik sosial tajam terhadap prilaku manusia masa kini terutama di kota besar.

Godaan Duniawi

“Dari cerpen itu, saya ingin, bila apoteker yang membaca, mereka akan sadar. Bila orang awam yang baca, mereka bisa melihat sosok apoteker sebenarnya. Oh, apoteker yang bener tuh gitu toh,” harap Vita.

Yogyakarta adalah kota pelajar, namun kota yang terkenal dengan gudegnya itu ibarat pisau bermata dua, pengaruh negatif dan positif hampir tidak ada bedanya, datang silih berganti, siapa saja yang menuntut ilmu di sana.

Jika tak tahan dengan ‘godaan duniawi’ niscaya bukan ijasah yang didapat namun ijabsah alias berkeluarga yang diakibatkan hamil diluar nikah. Mahasiswa asal Kalbar yang menuntut ilmu di Yogyakarta beberapa yang mengalami nasib seperti itu.

Tahun 2002, Koordinator penelitian soal keperawanan mahasiswi yang studi di Yogyakarta, Iip Wijayanto, meminta maaf terhadap masyarakat, terutama kaum perempuan Yogya, berkaitan dengan dipublikasikannya penelitian 97,05 persendari 1.660 mahasiswi yang kuliah di Yogyakarta sudah tidak perawan.

Walau akhirnya berbagai tekanan muncul kepada Iip dan riset dianggap tidak valid membuat Iip berfikir ulang untuk mempertahankan hasil penelitian yang ‘menampar’ kehidupan sosial kota pendidikan itu.

Pasca riset menghebohkan itu di Kalimantan Barat, banyak keluhan dan kekuatiran orang tua terhadap anak-anaknya yang kuliah di Yogyakarta, bahkan beberapa orang tua mengurungkan niat menyekolahkan anaknya di kota pelajar tersebut.

Penelitian yang dilakukan hampir tiga tahun itu akhirnya direvisi, bahkan penelitian ulang terhadap penelitian, dengan lebih melibatkan pakar-pakar yang berkompeten di dalam persoalan itu. Disatu sisi Iip mengaku, dari 98 responden yang pernah melakukan aborsi, kesemuanya karena tekanan laki-laki yang menghamilinya. Lanjut Iip, hubungan seksual yang dilakukan seluruh responden, sebagian besar diawali oleh inisiatif laki-laki pasangannya.

Lembaga tempat Iip bekerja, Study Cinta dan Kemanusiaan Pusat Bisnis Humaniora (LCS&K PUSBIH), juga sampai melakukan penelitian pembanding terhadap kesimpulan penelitian Iip. Sebuah tamparan keras terhadap kota yang memiliki semboyan berhati nyaman tersebut.

Vita sendiri melalui cerpen ingin berpesan kepada calon apoteker bahwasanya ilmu pengetahuan tidak selalu menjadi musuh moral, menurut Dia, ini bercermin pada realita, di Yogyakarta mungkin berbeda dengan Pontianak. Di sana (Yogyakarta) banyak anak muda dengan beragam tingkah laku, dari yg kalem sampai yang hancur sekali juga ada. Seks bebas dan hamil di luar nikah adalah hal biasa ditemukan di kota itu. Tidak jarang juga ditemukan dalam satu kos-kosan pacaran sudah seperti suami istri, hidup bersama. Sehingga, obat aborsi bisa didapatkan dengan mudah.

Pak Gus yang Tamak

Dalam cerpen itu menggambarkan, seorang tokoh antagonis bernama Pak Gus yang cenderung mengutamakan bisnis mengesampingkan etika moral. Fungsi sebenarnya dari Apoteker, menurut Vita dikalahkan oleh kepentingan bisnis, “Apotek fungsinya sudah seperti supermarket, pilih, ambil, bayar, tidak ada upaya pencegahan,” tegas anak kedua dari empat bersaudara itu.

Vita menuturkan, saat ini buktinya dokter lebih dipercaya masy daripada apoteker, karena apoteker sendiri yang merusak profesi mereka. Kesannya sekedar jual beli obat karena mereka punya wewenang, “Dari cerpen itu, mau saya tunjukkan kalau masih ada apoteker-apoteker muda yang jujur, setia dengan sumpah profesi,” kata Vita.

Dari Cerpen itu, Vita berharap ada apoteker membaca, sehingga sadar akan profesinya. Bila awam membaca, mereka bisa melihat sosok apoteker sebenarnya. Sebagai perbandingannya, kata Vita, di Amerika Serikat, pernah ada survey terhadap profesi apakah yg kata-katanya paling dipercaya. Ternyata Survey membuktikan kalau yang pertama apoteker. kedua, pendeta. terakhir sales mobil. Sedangkan di Indonesia, apoteker masih dibawah baying-bayang dokter. masyarakat lebih percaya dokter. malah ada dokter yg langsung member obat, tanpa ke apotek.

Tuesday, 10 August 2010

Salam semua. Selamat berpuasa bagi rekan Muslim. Semoga bulan ini penuh berkah. Doa bagi Kalbar tercinta, agar senantiasa damai tentram. Salam semua.

hentakun pontianak kalimantan barat
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, 16 July 2010

Durian bagi masyarakat Dusun Kangking, adalah penopang perekonomian sehingga masyarakat sendiri melarang pembabatan pohon durian meski tidak ada larangan pemerintah“

"Durian itu salah satu mata pencaharian kami, jika musimnya seperti ini rejeki buat menambah keuangan keluarga,” ujar F. Nariyanto (43), penduduk Dusun Kangking Desa Merawa Simpang Hulu yang ditemui di bawah pohon durian, Minggu (19/7) pekan lalu.
Laki-laki yang akrab sapa Nari yang menjabat sebagai bendahara Desa Merawa itu bersama putra bungsunya Dudung mencari buah durian. Di Desa Merawa terdapat sekitar 200 pohon durian yang masih bisa berbuah, dan sekitar tujuh puluh batang di Dusun Kangking yang musim buahnya bulan Juli dan Februari setiap tahun.

Nariyanto penduduk asli dan tinggal di Dusun Kangking Desa Merawa Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang. Menurut data laporan penduduk Desa Merawa, Dusun Kangking mayoritas penduduknya suku Dayak Kua
lan, memiliki 75 kepala keluarga, semuanya hidup bertani, sebagaimana orang Dayak yang tinggal di perkampungan dan sudah hidup turun temurun, hasil hutan merupakan urat nadi perekonomian dan filosofi mereka. Filosopi hidup karena tanda-tanda alam masih diyakini, sehingga bila hutan dibabat menurut Nari rakyat Merawa umumnya tidak bisa hidup. “Kalau hutan kami dibabat, kami mau cari makan ke mana, ini sudah dekat dengan pegunungan Merawa sebagai hutan lindung kami dan tak boleh diganggu, hutan itu nafas kehidupan kami,” ungkapnya.
Nari mengungkapkan, beberapa kali Desa Merawa didatangi perusahaan perkebunan untuk membuat tapal batas pembagian lokasi perkebunan, namun ditolak mentah-mentah warga setempat, sehingga pihak perusahaan pulang tanpa hasil, begitu juga rencana program perkebunan albasia, ditolak masyarakat. Laurensius Ajun Kepala Desa Merawa ditemui di Kediamanya di Dusun Giet Desa Merawa mengatakan, lebih memilih karet jika ada program pemerintah untuk membantu pembangunan ekonomi desanya,”masyarakat di desa kami lebih memilih karet, karena itu yang sudah membumi, kalau komoditas perkebunan lain masyarakat terus-terang saja menolak kami tidak mau seperti daerah lain yang menderita dan kehilangan air bersih,” ungkapnya.

Data menyebutkan di Desa Merawa, perkebunan karet paling dominan, dan sudah dimasyarakatkan pula beberapa hektar kebun kakau bantuan credit union (CU) setempat dalam bentuk kredit lunak ke penduduk. Ekosistemnya masih seimbang, warga bebas menikmati air sungai yang tidak tercemar limbah apapun, karena selain menikmati hasil alam, segala jenis kegiatan seperti PETI, perkebunan, tidak diperbolehkan masuk ke desa tersebut. “Di desa lain silahkan kalau di desa kami PETI dan perkebunan mohon maaf,” tegas Ajun.
Selain dua komoditi tersebut, hasil hutan lainnya seperti durian jelas juga sebagai komoditi unggulan musiman yang sangat membantu menunjang perekonomian keluarga, meskipun SKAU sudah diterbitkan pemerintah, bukan berarti serta merta pohon durian bisa ditebang.

Menurut Nari, di Desa Merawa untuk memperkuat kelestarian hutan maka dibuat Perdes yang melarang penebangan durian, menuba sungai, berladang rimba, apalagi merusak ekosistem tumbuhan yang ada di gunung Merawa, sehingga masyarakat memanfaatkan lahan tidur persawahan yang memiliki luas sekitar seribu hektar di desa Merawa. Selain Perdes, hukum adat Dayak juga masih kuat mengatur pola kehidupan masyarakat.
Catan (37) penduduk Dusun Kangking lainnya mengatakan, menebang durian sama saja mengurangi mata pencaharian mereka, Catan tidak malu seandainya disebut kuno atau kolot yang penting alam tetap lestari dan masyarakat tidak susah mencari makan. “Pemerintah pasti tahu bagaimana kehidupan masyarakat pedalaman Kalbar yang bergantung pada hasil hutan, kami yakin tidak akan semena-mena,” ujarnya polos.
Empe (42) warga Kangking yang rajin mencari durian mengungkapkan, dengan harga karet yang anjlok seperti ini, durian bisa menjadi pilihan, harga perbuah lima sampai 10 ribu rupiah, tergantung besar kecilnya bahkan sampai lima bel
as ribu. “Masyarakat rata-rata mendapat 80 buah perhari dikalikan saja,” jelas Empe.
Peluang Agrowisata
Sekretaris Masyarakat Perhutanan Indonesia Kalbar, Gusti Hardiansyah di Pontianak (24/7) mengakui memang durian tidak dilarang ditebang setelah dikeluarkan SKAU, namun jika kearifan lokal kuat dan masyarakat setempat menghendaki agar durian tidak ditebang, sebaiknya pemerintah atau perusahaan menghormatinya, supaya tidak terkesan rakus.
“Durian boleh saja ditebang, namun untuk kepentingan buah jangan ditebang seperti halnya pohon kayu madu (tapang) dan tengkawang meski boleh sesuai SK Menhut namun hak masyarakat adat seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) nomor 1 tahun 2009 tentang pengakuan negara terhadap hak adat harus tetap dihargai,” jelasnya.
Untuk kepentingan perusahaan menurut Dosen Fakultas Kehutanan Untan itu, durian dikategorikan sebagai kayu papan tengah kelas
II-III, untuk kelas I seperti ulin, bengkirai sehingga untuk kayu kelas satu yang dibutuhkan perusahaan untuk industri seperti plywood, sedangkan kayu durian itu alternatif.
Ia juga mengakui, durian di Kalbar sudah dibudidayakan sejak zaman nenek moyang di tembawang, misalnya di Batang Tarang Sanggau, Sukadana KKU. Namun menurutnya di Kalbar sebaran pohon durian hanya sekitar lima persen namun peluang agrowisata besar walaupun terkesan langka. Di Singkawang misalnya di arah Karimunting ada durian yang berpotensi untuk agrowisata.
Mengenai perkembangan durian agar menghasilkan berbagai rasa, kandidat Doktor IPB Bogor tersebut mengakui riset perguruan tinggi belum maksimal sehingga varietas durian dengan berbagai rasa belum ada di Kalbar, seperti durian rasa mentega, keju, asam dan sebagainya. Sama halnya seperti kayu lain misalnya meranti karena hasil penelitian, sebelumnya bisa ditembang setelah umur lima puluh tahun sekarang bisa 25 tahun sudah dapat ditebang.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalbar Kamaruzzaman ditemui di Balai Petitih Kantor Gubernur sehari sebelumnya mengharapkan, agar pemerintah mencegah penebangan terhadap komoditas buah-buahan seperti durian, langsat dan sebagainya, karena dalam program visit Kalbar 2010, agrowisata juga termasuk dalam agenda akbar pertama di Kalbar tersebut.
“Penebangan durian harus dicegah karena durian untuk konservasi yang mendukung ekonomi kerakyatan jika tetap menebang ya diberi sanksi dong durian itukan komoditas yang bisa juga menarik wisatawan,” tegasnya.
Menghilangkan Identitas
Deputi Direktur Walhi Kalbar, Blasius Hendi Candra, menjelaskan durian sebagai komoditas hutan hujan tropis harus dilindungi, menghilangkan durian bearti menghilangkan identitas.
Hendi kuatir penebangan terhadap komoditas hutan lokal ini sebagai bentuk penghilangan identitas masyarakat lokal di Kalbar, “Semua tahu kalau durian itu sebagai salah satu nadi perekonomian masyarakat kampung kenapa harus dimusnahkan hanya untuk kepentingan sesaat sementara durian itu ada sudah turun-temurun sangat disayangkan kalau pemerintah tidak segera mengambil sikap tegas,” ujarnya kesal.
Hendi berharap pemerintah tegas dalam mengambil tindakan terhadap siapa saja yang merusak ekosistem masyarakat lokal di Kalbar, “langkah pemerintah kalau berani buat perda mengenai penghargaan terhadap masyarakat lokal agar pemerintah punya komitmen nyata menghargai kearifan masyarakat lokal, durian itukan kearifan lokal turun temurun di Kalbar kenapa harus dibabat juga,” ujar Hendi setengah bertanya.

Tuesday, 27 April 2010

Disms, ditelpon berulang kali di minta pulang, saya tetap ngotot untuk bekerja-bekerja dan bekerja. Sok sibuk…!.

Usai dari kantor, menuju parkiran, terlintas di benak, sosok perempuan berumur berwajah serius dengan tatapan kosong terus mengayun parang menebas belukar, untuk ladang, ya untuk ladang, menghidupkan saya, memberi makan saya ketika pulang, agar tidak dianggap pemalas yang selalu mengharap beras pemerintah, “Kita bisa bekerja kita bisa tanam padi dan hasilkan beras sendiri,” kata Bapak suatu ketika.

Saya, memacu motor di jalanan, terus melamun sepanjang jalan, “Besok saya mesti pulang” gumam dalam hati.

“Ibu sakit, kamu harus pulang, beliau dua hari tak sadarkan diri” demikian bunyi pesan pendek dari selular nun jauh di kampung.

Ingin rasanya malam segera berlalu, biar pagi menjemput dan saya memacu kendaraan ke kampung halaman untuk menemui perempuan paro baya yang tergolek lemas di atas tikar Bidai ruang tengah Rumah papan ku.
Tidak ada yang menjaga, Bapak ke kota untuk suatu urusan, memakan beberapa hari, kembali.
Saya, oh, saya sok sibuk, saya selalu mengutamakan diri sendiri, saya egois, menempatkan pekerjaan di atas segala-galanya, tapi tidak ada hasilnya.

Sikap ini, tentu banyak yang protes, banyak, bahkan setahun terakhir sejak saya bekerja, protes dari berbagai penjuru, datang menyesak telinga, “Apa sih?”, gumam ku lagi.

Sesuai permintaan, malam berlalu, cepat rasanya. Namun, pagi harus servis pacuan biar nyaman sampai tujuan, seperti sebuah doa, “Ha…gir depan belakang, rantai, mesti diganti baru top…!”, suara hati berbisik.

Malam, sebelum tidur saya menelpon seseorang memohon doa Tuhan (kalau memang ada) maha adil, Romo Robini (Pater Rob) dengan iklas hati akan membuat misa kesembuhan ibu saya, “Siapa namanya?”, “Yuliana Sarania, Romo,” jawab saya di tengah pekatnya malam, gerbang biara berbunyi ditiup angin, bergoyang-goyang, “Haciissss, maaf saya tidak bisa kena angin malam terlalu lama, besok saya akan pimpin misa untuk kesembuhan Ibu kamu, dan sebaiknya kamu pulang, jenguk ibu mu,” kata dia lagi.

Usai meng-oke-kan perkataan dia, saya kembali memacu kawan yang selalu menggendong saya ke mana-mana, ke rumah dan tidur, tanpa mimpi apapun, “Tuhan jika engkau tidak mengabulkan aku dalam kerajaanmu, namun kabulkan kesembuhan untuk ibu ku, aku tahu Tuhan sakit hati karena aku belum sepenuhnya menganggap Tuhan ada,” kembali suara hatiku berbisik..eloy...eloy…”Tuhan maha tahu maha pengampun, meski saya bertingkah seperti Thomas,” tidur pun menjemput.

Pagi, panasnya Pontianak tak menyurutkan bangun, berfikir cepat sampai, jangan singgah-singgah. Kendaraan di pacu, cepat melesat, 1,55 menit sampai Tayan, nyeberang, 180 menit sampai di Balai Berkuak, 30 menit sampai di Kampung, Perempuan paro baya tergolek lemas, “Ibu mu tak sadarkan diri dua hari,” kata seorang bibi, “Sakit apa dia?,” tanya saya, “Badannya sakit semua, sendi-sendinya juga sakit, semua badan sakit, ada luka di badannya belum sembuh,” kata bibi yang lain.

Ibu-ibu di dapur sibuk, ada yang masak bubur, memberi babi, ayam peliharaan makan, dan sebagainya, termasuk membersihkan rumah. Saya mendekati ibu, dengan kakai yang masih berlumpur tentu juga berkeringat. Aku merasakan keningnya, panas, yang saya dengar hanya suara rintihan sakit, hati ku luluh, kenapa saya begitu durhaka?, tega meninggalkan ibu sakit seperti ini?, andai saya menunda kepulangan, tak tahu apa yang terjadi?.
Its, okay, ini pelajaran berharga, saya mesti, segera bertindak, untuk kesembuhan, saya kembali ke Balai Berkuak, dan membeli obat-obat yang harus di minumnya. Jamu, makanan dan multivitamin. Tak peduli jalan berlumpur dan malam menjemput kembali.

Di rumah sudah tidak ada apa-apa, hanya ada beras, sejak sakit, tidak ada yang memasak, apalagi anaknya jauh, selera makan orang tua hilang. Segera kembali, membawa obat yang di perlukan, di rumah, bubur ayam sudah matang, kemudian ibu diminta makan sedikit, setelah itu minum obat, dan tidur lagi.

Menjelang tengah malam, “Hen, kenapa tidur tak pakai selimut?,” suara itu begitu akrab di telinga, ketika mata di buka, “Oh, Ibuku sudah sadar, namun lelah di mata dan hatinya menjalani hidup hari-hari penuh beban tak mungkin hilang sekejap,”, “Iya, Ibu tidur saja, istirahatlah, saya sehat kok tidak apa-apa, tidurlah,” kata ku sambil menyelimuti dia, aku lihat kaki ku masih penuh lumpur. Kakinya ku tutup doble selimut, bantal ku taruh di kiri-kanan, tentu saja di kepala ada.

Dia kembali memejamkan mata, hingga esok menjemput, “Ibu cepat sembuh, anakmu yang durhaka ini kembali akan bekerja, untuk ibu, ya, untuk ibu,” gumamku…