Senin, 2008 Juni 23

ANTI TIDAK HARUS MEMBENCI

Tetangga saya namanya A Yong, seorang Mak Nyah yang super cerewet, namun baik hati. Memiliki suami semata wayang namanya A Long yang bekerja sebagai manejer pemasaran sebuah perusahaan otomitif terkenal di kota ini. A Yong, saya katakan baik hati, karena setiap pagi sebelum saya bangun, dia sudah bangun, walaupun membuat saya sedikit terganggu karena sejak pagi Mak Nyah Ayong sudah ngomel dengan suami tercinta, untungnya bagi saya karena tidak perlu menyalakan alarm HP untuk bangun pagi, lebih hemat, dan praktis tidak perlu dimatikan setelah berbunyi. Sebenarnya bahan omelan (kalau kami di Lembaga menyebutnya Lokakarya) yang disajikan oleh Mak Nyah A Yong dari pagi ke pagi hampir sama, yaitu seputar sembako, uang jajan anak, dan alat solek, yang terakhir ini paling urgent. Maklum, Mak Nyah A Yong mantan TKW yang sudah lama malang melintang di negeri Tirai Bambu, negara dimana Mao Tse Dong dan komunismenya pernah menancapkan kuku dominasinya dengan kuat. Negara tersebut juga belum lama ini menjuarai piala Tomas dan Uber, sebuah turnamen bulu tangkis yang sangat bergengsi di jagad ini.
Omelan-omelan yang keluar dari mulut atas Mak Nyah A Yong pun terdengar begitu kasar, memang saya tidak tahu artinya tetapi dari nada ucapannya hampir sama kalau setiap orang di muka bumi ini marah. Saya pun tidak habis pikir, mengapa setiap pagi selalu terjadi seperti itu, padahal suaminya sudah bekerja dengan baik dan keras. Dari segi pendapatan tidak jauh berbeda dengan PNS golongan IV D negeri ini, belum lagi di tambah bonus kalau ada prodauknya yang laku. Menurut saya hidup di kota yang masih serba carut marut, dan barang-barang sembako masih mudah didapat, bukan alasan Mak Nyah mengomeli suami semata wayangnya, karena kerja kerasnya Mak Nyah dan anak-anaknya masih bisa melihat butiran nasi, saya tidak tahu apakah Mak Nyah pernah berpikir mengenai kaum gelandangan yang jarang mendapat sesuap nasi dalam sehari. Pengeluaran suaminya pun bisa di kalkulasi dengan sangat minimal, paling ya cuma bahan bakar kendaraan. Itu pun tidak usah diperhitungkan karena selain jarak kantor yang dekat dengan rumah, di setiap perempatan yang ada lampu trafig light (lampu lalu lintasnya) kita tidak perlu berhenti untuk menunggu warna hijau menyala, sehingga menghabiskan beberapa tetes bensin di karburator kendaraan bermotor, karena masyarakat di kota ini buta warna, dan selalu menginginkan setiap hari ada kecelakaan, seperti yang diberitaan oleh koran borneo tribune edisi kamis 19 juni 2008, pada halaman pertama, koran borneo tribune merupakan koran yang tulisannya naratif reporting.

Main serobot merupakan tradisi berlalu lintas di kota khatulistiwa, mumpung petugas tidak lihat, sama dengan prilaku cukong dan investor yang main serobot lahan dan hutan adat, tanpa mengindahkan nilai luhur tradisional masyarakat adat setempat, ya, karena dalam otak para cukong itu Cuma duit, tidak ada yan lain, sehingga kelihatan tamak.
Kita tidak bisa membedakan ada atau tidaknya aturan lalu lintas di kota ini meski patung anggota penegak aturannya selalu berdiri gagah di perempatan dekat Garuda Hotel, tidak tahu patung siapa itu, yang jelas kalau manusianya, tidak ada yang betah berdiri 24 jam penuh tanpa harus di ganti. Paling kalau panas sedikit berteduh di pos mereka, sambil mengintip siapa yan melanggar, kemudian di kejar dan di tilang serta dimintai uang, sistem seperti itu, meminjam istilahnya Mas Kelik Peli Pur Lara Wakil Presiden Republik Mimpi, yaitu KUHP alias Kasih Uang Habis Perkara.
Ya...seperti itulah Mak Nyah A Yong yang mantan TKW ilegal, dia berpikir, sekarang saatnya suami saya yang menafkahi saya dan anak-anak saya, kalau ada uang berhenti mengomel. Dulu, saya lima tahun menafkahi mereka ketika saya menjadi TKW yang berlabel ilegal, maklum negara yang memang senang dengan sesuatu yang serba tidak jelas di segala bidang kehidupan, sampai-sampai ajaran agama pun tidak jelas, sehingga saling mengklaim, menganggap agamanya yang paling benar, tidak mau mengakui ada agama lain, anti pluralisme. Pahala besar kalau berhasil menaklukan lawan tandingnya menuju surga, padahal letak surga pun tidak tahu dimana. Frans Magnis Suseno dalam bukunya Menalar Tuhan, (halaman 64-65), Ludwig Feuerbach (1804-1872), yang mengkritik gagasan fundamental Hegel (1770-1831) yang menyatakan bahwa “dalam kesadaran manusia, Allah mengungkapkan diri”. Pernyataan ini dikritik oleh Feuerbach, menurutnya, Hegel memutar balikan kenyataan. Hegel memberi kesan, seakan-akan yang nyata adalah Allah (yang tidak kelihatan), sedangkan manusia (yang kelihatan) adalah wayangnya. Padahal yang nyata tak terbantah adalah manusia. Bukan manusia itu pikiran Allah, melainkan Allah adalah pikiran manusia. Bagi Feuerbach, manusia inderawi tidak dapat dibantah, sedangkan roh semesta hanya berada sebagai objek pikiran manusia. Inti dari kritik Feuerbach, adalah bukanlah Allah yang menciptakan manusia, melainkan sebaliknya Allah adalah ciptaan angan-angan manusia. Jadi sudah jelas, mengapa kita pusing-pusing memperebutkan surga sampai-sampai adu jotos, seperti kejadian di Monas beberapa hari lalu. Sepertinya sudah saatnya kita menisbikan teori bahwa selama ini manusia yang tidak berotak, masyarakat kecillah yang selalu adu jotos. Namun teori sekarang kita balikan menjadi, manusia berotaklah yang senang dengan adu jotos, karena sebenarnya dia justru paling tidak memiliki otak, sehingga pemahamannya dangkal terhadap sesuatu hal. Benar kata Bung Roma Irama seorang penyanyi dangdut tersohor negeri ini dalam sebuah lirik lagu,“benar kata orang lain, belum tentu kata kita, baik kata orang lain, belum tentu kata kita”.
Kembali ke Mak Nyaaaaaaaaaaah...!!!
Nah...Mak Nyah memiliki pemahaman yang dangkal mengenai suami, dia lebih menghargai suaminya masuk dalam organisasi (ISTI) Ikatan Suami Takut Istri. Padahal suami adalah kepala keluarga. Memang sekarang santer isu kesetaraan gender, namun Mak Nyah A Yong keterlaluan, yang dia lakukan bukan kesetaraan lagi, tetapi berusaha meninggikan derajat diri dari suaminya. Karena A Yong pikir, dia sudah lama tinggal di luar negeri, walau sebagai TKW, sedangkan suaminya keluar kota Pontianak pun mungkin jarang, maklum A Long selama kulah di Fakultas Ekonomi terkenal sangat pintar, termasuk pintar nyontek, sehingga dia lulus dalam waktu singkat dengan predikat suma cum laude, sebuah pencapaian tertinggi dalam meraih nilai di perguruan tinggi, namun ya itu tadi, tahunya Cuma bekerja dan bekerja, A Long tidak memiliki teman banyak selain para klien dan pelanggan, yang mau berteman kalau ada diskon produk perusahaan tempat ia bekerja.
Dalm hal tinggal di luar negeri, A Yong berbeda dengan Habibi. Habibie saja sebenarnya tidak bangga tinggal di luar negeri, walaupun gajinya lebih tinggi dari gaji pejabat-pejabat besar di negeri ini. Habibie tetap low frofile, sekalipun pidato pertangung jawabannya di tolak oleh DPR, toh itu tidak mempengaruhi aset kekayaannya yang sudah di bangun sejak lama. Dalam hal menyelesaikan masalah pertengkaran suami istri, A yong tidak seperti Gus Dur yang selalu memiliki jalan terbaik dalam menyelesaikan suatu masalah, cukup mengatakan “gitu aja kok repot”, dengan sendirinya semua masalah selesai, tetapi tidak untuk masalah seteru dengan keponakannya sendiri, kalau yang ini lain lagi ceritanya. Dalam hal mengurus suami, A Yong berbeda pula dengan Ibu Megawati, meski menjadi Presiden, tetap menempatkan derajat suaminya sebagai kepala rumah tanga, sehingga sering kita lihat kalau Ibu Megawati ke mana-mana selalu ditemani suami dan anaknya Puan Maharani, mungkin yang satu ini sekaligus belajar.
Ya... saya memang anti dengan sifat Ma Nyak A Yong, karena selain mengganggu saya untuk kesiangan pas hari libur, juga nurani saya sebagai manusia tersentuh melihat, mendengar dan ikut merasakan bagaimana hancurnya pikiran suami Mak Nyah itu. Sudah bekerja membanting tulang (padahal tidak sampai benar-benar membanting tulang), masih saja di omeli, oh ya... pernah suatu saat sampai di rumah, kaki pertama (kanan maksudnya) baru menginjak anak tangga pertama suaminya, tidak jelas ada masalah apa, tahu-tahu A Long dilempari dengan wajan yang (maaf) pantatnya sangat hitam, maklum saking pelitnya A Yong, masak pun pakai kompor minyak tanah, padahal anggaran untuk membeli gas lebih dari cukup.
Untungnya suami A Yong dulu ketika muda pernah belajar Kung Fu, walau tidak se jago aktor film laga seperti Jet Lee, Jacky Chan, Bruce Lee, Steven Coy, Andy Lau dan sebagainya. Yaaa...untuk ngipas lalat bisa, sehingga wajan penggorengan mereka penyok di tendang suami A Yong. Sampai sekarang, wajan itu saya gantung di belakang rumah, di atasnya saya tulis “korban kekerasan dalam rumah tangga”. Tapi saya lihat tadi wajannya sudah hilang, tinggal tulisan KDRT-nya.
Meski anti, saya tidak sampai hati membenci keluarga mereka, termasuk A Yong, itulah mereka adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan. Saya paham betul, tidak semua anggota keluarga yang mengerti dengan posisinya di rumah, sehingga suami pun berubah menjadi istri (perannya) dan istri menjadi suami. Namun sebenarnya hakikatnya sama, yaitu membangun sebuah bahtera rumah tangga, meski dengan jalan masing-masing....jadi mengapa harus pusing...memikirkan surga...kan ada di bawah telapak kali Mak Nyah A Yong.





Baca Selengkapnya..
Kamis, 2008 Juni 19

Cerita Zaenab Binti Beranyot

Raymond tidak berpikir panjang, ketika dia pulang dari tempat pacarnya di kampung sebelah, dengan wajah lunglai masuk rumah. Suara aneh dari teras rumah memcah keheningan malam yang waktu itu hampir pukul 23.00 WIB."hei...dari mana kamu...!" Raymond berhenti, "dari apel ma" jawab Raymond dengan santainya,dia tidak berpikir kalau itu ibu yang melahirkannya alias ibu kandung.Raymond seorang pria yang setengah mereng (gila) karena belum lama ditinggal pacarnya jadi TKI ke luar negeri (negeri Jiran ga jauh-jauh amat)dan Zainab, mahasiswa sebuah perguruan tinggi luntang lantung yang amat tersohor di kotanya.
Masing-masing orang, waktu idealnya pulang dari tempat apel jam 23.00 WIB. maklumlah hubungan yang baru seumur jagung biasanya dipenuhi dngan nuansa romantis dan saling memuji, namun bila ada kata-kata yang terpeleset seperti Kelik Pelipur Lara sering ucapkan untuk mengocok urat tawa kita, beliau itu seorang raja plesetan dari Jogja yang sudah sangat terkenal di dunia plesetan Republik Indonesia, beliau juga sudah menerorkan beberapa buku slepetan eh salah plesetan, situasinya jadi lain, mungkin runyam atau langsung bubar. Karena antara Raymond dan pacarnya sama-sama egois...ya sangat egois, bukan hanya itu keduanya sama-sama posesif, bila salah satu dari mereka ketahuan berhubungan bukan intim dengan maka yang ada hanya rasa curiga yang dilampiaskan melalui ungkapan emosi yang kadang sangat berlebihan.
Oh ya..saya hampir lupa, nama pacarnya Zainab binti Beranyut, wanita yang setahu sangat gatal dan super sok cantik, narsisme.Ah maaf terlalu memuji. Iya memang dia itu saya lihat sangat gimana gitu.bagi saya itu bukan type saya, walau harus mengomentari, karena bagi saya orang maksud saya perempuan seperti itu menyalahi kodratnya sebagai ibu yang bijaksana, seperti label blog saya ini, walau saya tidak tahu bijaksana itu sebenarnya kue apaan sih...?, yang jelas, saya tidak suka dengan perempuan kasar, sok cantik dan marah kalau di ingatkan, ketika pacaran terlalu kebablasan sehingga menyebabkan gangguan kevirginan dan kehamilan.
Kata Bang Mering Tribune Institute, "Ikan Toman di atas batang,Nuan Tenaang". ya saya juga mencoba untuk tenang dari komentar saya yang super resek dengan wanita seperti itu. Sungguh saya benci-benci sekali.
saya kuatir kelak dia jadi ibu, suaminya pasti senasib dengan Mas karyo, Uda' Faisal, bang Tigor dan Pak RT di komedi situasi Suami-Suami takut Istri yang ditayangkan oleh salah salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Bahkan mungkin lebih galak dari itu, karena dalam komedi tersebut, para ibu yang super galak masih takut dengan mertua dan anak-anak mereka. berbeda dengan gambaran Zainab yang setiap hari kerjaanya bersoleh dan mendempul mukanya yang rada hitam, sehingga kelihatan paling tidak sedikit berwarna pink, dan kelihatan imut kayak cecurut (tikus got yang super bau, biasanya mencuri masuk ke dalam garasi rumah kakak saya).
Ini memang nisbi kawan, tapi patut untuk saya sendiri renungkan, karena seorang iu yang juga berasal dari seorang gadis dulunya semestinya belajar menjadi ibu sejak pacaran, bukan mnjadi abg dan semakin abg setelah pacaran, semua laki-laki ingin istrinya bijaksana dan perhatian dan sayangsama anak-anak mereka,suami sayang sama istrinya kalau sikap penyayang ada pada setiap sudut hati, hidup sederhanapun tak menjadi masalah kalau bukan dengan perempuan seperti Zainab Binti Beranyut. ah... daripada pusing mikirin zainab, mendingan tidur...



Baca Selengkapnya..
Kamis, 2008 Juni 05

sepotong pertengkaran

Terserahlah...kalau memang ingin mencari yang lebih. Maaf kalau saya pria miskin yang selalu mengemis sama kamu, sampai kamu tidak bisa pulang dan harus bekerjauntuk penuhi keutuhanmu, karena uangmu banyak saya pakaikan? Saya tahu, kamu menghindari saya untuk bertemu keluargamu..."

sepenggal pesan singkat lewat telpon seluler yang saya kirim pada gadis kecil bernama Mida Anzasari yang selama ini selalu menghiasi dinding hati, sudut-sudut kabahagiaan dan penderitaan. Pagi itu aku sangat merindukannya. Seperti hari-hari lain ketika kami berdua berpisah, saya di Pontianak dan dia di Yogyakarta untuk menunaikan tugas menuntut ilmu di kampus Universitas sanata Dharma Yogyakarta, sebuah Universitas Yesuit yang memiliki motto "Memajukan keunggulan akademik dengan nilai-nilai humanistik". Kampus tersebut juga dulu menjadi almamter saya ketika kuliah di program studi pendidikan sejarah tahun 2001. Sekarang saya di Pontianak jauh meninggalkan Mida sendirian di Jogja, begitu biasanya kota pendidikan dan kota Gudeg itu akrab dipanggil. Saya di Pontianak bekerja pada Tribune Institute, senuah lembaga NGO yang berkutat pada Citizen Jurnalism atau kami di Tribune Institute menyebutnya Jurnalisme Kampung.
Tanggal 5 Juni 2008 sepertinya membuat saya semakin menemukan arti dari cinta seorang gadis yang sudah setahun lebih saya kenal. Saya tidak tahu persis apakah dia memang mencintai saya, sampai-sampai setiap saat hanya ada dia dalam pikiran ini. Pagi itu, saya menanyakan kepada Mida sang gadis kecil dari kampung Pereges Kabupaten Bengkayang. Lewat telpon selular yang memiliki sisa pulsa sekitar Rp.3000,-, Saya call dia untuk menanyakan kapan pulang, namun jawaban Mida, dia tidak pulang karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Saya langsung teringat, kalau saat ini saya belum bisa memberi uang dari hasil kerja saya. lagi pula saat ini saya benar-benar belum punya uang. saya jadi malu sendiri, semestinya kalau sudah libur saya minta Mida pulang agar kami bisa bertemu, dan yang paling penting agar Mida bisa bertemu orang tua dan adik-adiknya di kampung, sekalian saya ingin memperkenalkan diri saya pada orang tuannya, wah untuk yang satu ini saya kira terlalu berlebihan, karena saya belum mengerti karakter orang tuanya bagaimana, terutama Ayah Mida, menurut cerita beliau galak, suatu ketika ketika di Jogja, Mida pernah menceritakan itu pada saya, kontan saja, saya jawab " besok kalau saya ketemu bapakmu dan dia marah dengan hubungan kita, saya ajak duel saja, biarmatanya terbuka untuk mengetahui kekuatan cinta saya padamu.." Agak naif sih, tapi ya itu, saya dengan keluguan dan sedikit kekonyolan serta hobby menilai sesuatu dengan persfektif lucuisme, menganggap itu bukan masalah, karena saya pikir, segalak-galaknya macan tidak mungkin makan anaknya. Namun saya menganggap itu serius, karena saya menghargai perasaannya.
ya...saya tidak punya uang untuk membeli tiket pesawat ke pontianak, jadi, saya bilang tunggu saja saya akan jual kamera digital merek sony yang saya punya, kamera itu kamera kesayangan saya, walaupun tidak semahal kameranya Bang Mering, sahabat yang sekaligus abang saya di Pontianak, beliau adalah Wakil pemimpin Redaktur Harian Borneo Tribune, dan Direktur Eksekutif Tribune Institute tempat saya bekerja.
Saya dengan diam meng-SMS teman-teman saya yang berada di sekitar pontianak untuk menawarkan mereka kamera digital saya, tapi semua memberi jawaban belum atau tidak punya uang segitu banyak, saya pun maklum, terbesit dalam pikiran saya untuk mengembalikannya ke counter tempat saya membelinya kemarin, tetapi setelah saya telpon ternyata harganya turun sekitar 50%, kemudian saya buat janji, kalau memang belum laku ke teman-teman saya dengan harga yang lebih tinggi, maka terpaksa saya kembalikan saya dengan harga segitu, yang penting Mida pulang dan bisa bertemu orang tuannya, karena saya tahu betul bagaimana kisah hidup keluarga mereka. Saya tetap bergerilya menawarkannya dalam beberapa hari ini, saya ingin punya uang dan akan saya kirimkan untuk Mida. Maklum juga saya pikir karena baru bekerja jadi belum seberapa, apalagi ini baru tahap job training atau ospeklah barangkali.
saya Ingin Mida mengajak saya untuk bertemu keluarganya, namun kata-kata itu belum pernah saya dengar dari mulutnya, Mida pernah mengatakan, kalau dia takut mempertemukan saya dengan keluarganya, terutama ayahnya, saya sungguh tidak paham dengan perkataannya yang menakut-nakuti saya dengan kegarangan ayahnya, namun saya tidak pernah memikirkan hallain, mengapa Mida menolak diajak ke tempat orang tuannya. Dengan nurani saya, ingin sekali membuatnya untuk lebih fress dalam hidup dan cinta, karena selama ini saya lihat, mukanya menyimpan sejuta keprihatinan entah hidupnya atau hidup orang lain, atau mungkin asa yang akan dia gapai kelak kalau dia sukses menamatkan studinya di kampus humanis.
Saya akan menjual apapun yang saya punya untuk kebahagiaan Mida...karena cinta adalah Mida dan Mida adalah nama dari cinta...

Baca Selengkapnya..
Selasa, 2008 Juni 03

Kucing, EURO dan Bangsa Bar-Bar

Genderang Kompetisi sepak bola antar negara di Benua Eropa sudah di mulai, seluruh mata di dunia tertuju kesana. Sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk melihat para gladiator lapangan hijau mengolah sikulit bundar. Gaung perhelatan EURO 2008 bahkan tidaklagi dikonsumsi umat manusia, terutama laki-laki yang memang maniak bola, walau sudah punya bola. Animal yang memiliki instink yang paling tinggi inipun tidak ketinggalan, malah sampai tertidur membaca berita EURO. Para narapidana di dunia binatang mengajukan remisi atau paling tidak menyediakan layar lebar di sekitar ruang tahanan mereka. Potret semacam ini menunjukan perkembangan sepak bola sudah tidak bisa terbenndung lagi. Ini mungkin bisa dimaklumi karena masalah negara yang semakin kronis akibat komplikasi mencapai stadium 4, menjadikan masyarakat termasuk binatang mencari alternatif hiburan yang memasyarakat. Sepak bola memang tiada duanya, jadi kalau pusing selalu menndengar sembako naik, BBM naik, nontonlah sepak bola, tapi ingat jangan sampai menendang tv kalau jagoannya kalah. Karena sepak bola ada aturan mainnya, dan itu berlaku juga bagi penonton, agar tidak membuat situasi tidak fair, dan salingg serang antar suporter. Sepak bola sama seperti pancasila. bedanya yang satu mendunia, yang satu mengIndonesia. Kedua hal tersebut selalu di nodai dengan sikap manusia yang tidak bijaksana. Mungkin gambar mereka ini bisa jadi refleksi manusia-manusia yang berperilaku seperti bangsa bar-bar di hari ulang tahun lahirnya Pancasila 1 Juni 2008. Sambil mengelus dada saya berkata....COBAAAN...

Baca Selengkapnya..
Rabu, 2008 Mei 28

AKU BERTEMU DENGAN MEREKA DAN HIDUPKU

Ketika pesawat sudah menginjak tanah Jogja yang sudah dilapisi aspal, saya ingin berteriak, karena kota pendidikan itu ku injak kembali. Saya mengantar Yovinus (adik sepupu), biasa disebut si gendut ke Jogja untuk melanjutkan studi ke Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. kampus tempat saya menuntut ilmu kurang lebih tujuh tahun. Di Jogja saya kembali bertemu dengan Romo Baskara. Dulu sewaktu kuliah saya pernah bertemu Romo Bas, beliau adalah seorang Romo yang aneh menurutku. anehnya karena sudah mendapat gelar Doktor tetapi masih terlihat muda dan belum beruban, berjiwa muda, dan sangat menghargai orang lain yang ingin belajar, tidak terlihat sibuk walau waktu yang disediakan selama 24 jam bagi beliau mungkin kurang karena dipenuhi oleh berbagai aktivitas akademik dan kemanusiaan. Maklum beliau seorang dosen Sejarah dan program pasca sarjana di kampus humanis itu. Romo yang murah senyum tersebut saya hubungi melalui telpon selular ketika sudah sampai ditempat kami berdua menginap, yaitu rumah bapak Dalijan. Rumah Pak Dalijan adalah tempat saya indekost sewaktu kuliah.
Sehari setelah saya sampai di Jogja, tepatnya tanggal 20 Mei 2008, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, saya bertemu dengan F.X. Baskara Tulus Wardaya S.J (begitulah nama lengkapnya). Mungkin karena suasana hari kebangkitan nasional, saya mendapat wejangan dari beliau. Romo Bas, begitu beliau akrab dipanggil, mengingatkan saya, kalau kami sebagai pemuda penerus generasi dan pembangunan di Kalbar harus berjuang lebih keras, karena membangun Kalbar sangat berat dan butuh orang-orang yang berjiwa fighter serta tetap memiliki nuraniLebih lanjut Romo berpesan, kalau jangan hanya mengandalkan isyu kedaerahan, dan yang perlu diingat adalah Kalimantan Barat wilayah Indonesia, dan suku Dayak yang ada di dalamnya itu orang Indonesia. Lebih jelasnya Romo Bas mengatakan "Jadilah Indonesia yang kebetulan Dayak, bukan Dayak yang kebetulan Indonesia". Kurang lebih dua jam kami ngobrol di ruang tamu Pastoran Belarminus Mrican, akhirnya saya pamit, karena adik (ini bukan adik sepupu)yang mengantar saya sudah kelihatan ngantuk. Sebelum pulang Romo Bas titip salam untuk teman-teman di Kalbar, antara lain Bang Mering dan Anika. Rencananya Romo Bas Januari akan ke Kalimantan Barat, itupun kalau kami jadi mengundang beliau, karena diam-diam Romo Bas ingin sekali ke Kalimantan Barat rupanya.Romo Bas juga memberikan buku "Membongkar Supersemar" dan akan diberi pada saya waktu bedah buku "Indonesia Melawan Amerika" yang juga hasil karya intelektual Romo Bas. Malamnya, saya bersama adek (bukan adek sepupu), ke GOR UNY untuk menghadiri acara tersebut. Saya benar-benar mendapat hadiah buku dari Romo Bas, dan buku itu sekarang lagi di resensi oleh Bang A.A.Mering dari harian Borneo Tribune. Senangnya diriku diberi buku oleh seorang doktor,dan saya pun kembali ke tanah borneo sehari kemudian.
Walaupun baru pulang dari Jogja, saya tidak merasa terlalu capek.Mungkin karena sudah terbiasa bolak-balik naik pesawat Jogja-Pontianak. Ketika sampai di Pontianak,bukannya istirahat,malamnya saya langsung mengikuti pertemuan dengan Mas Andreas Harsono dari Pantau Jakarta diikuti juga oleh Pak Kristianus Atok, Bang Yohanes Supriyadi, Bang Mering, Bang David, Bang Tanto Yakobus, ada juga Pak Flora (Sunawar Owat) dari YPB dan kawan-kawan aktivis lainnya. Dengan Andreas Harsono, saya bingung, beliau yang sudah memiliki beberapa rambut putih tersebut, lebih tepat saya panggil bapak, Om, Bung, Bang atau siapalah sebagai wujud penghargaan saya pada salah seorang dewa dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Tapi kayaknya saya panggil MAs saja karena dari penampilan beliau masih terlihat muda, walau sudah memiliki putra bernama Norman Harsono (seperti yang saya baca dalam blognya http://andreasharsono.blogspot.com).
Malam itu kami diberi wejangan oleh Mas Andreas Harsono (saya mengikuti trendnya para senior aktivis seperti Bang Mering, memanggil beliau dengan sebutan "Mas". Ya ternyata enak juga dengan ungkapan tersebut, karena lebih simpel dan enak di ucap. Kebetulan juga beliau orang jawa. Saya banyak tahu tentang beliau melalui blog, saya rasa bloglah yang menebus rasa keingintahuan saya pada sosok yang hanya saya tahu dalam buku, seperti Bang Mering, dan Mas Andreas Harsono(sayang, mungkin Mas Andreas Harsono sudah lupa dengan saya, tapi tidak apa-apalah, yang penting saya sudah pernah bertemu dengan seorang Jurnalis tersohor negeri ini, yang memahami betul mengenai sepuluh elemen jurnalisme)
Saya sebagai orang yang masih sangat hijau dalam dunia inteletual dan jurnalistik, masih harus banyak belajar, kebetulan Bang Mering dan disemangati oleh Pak Kris, Bang Yadi, teman-teman YPB, ELPAGAR, YPPN, dan Tribune Institute sangat mengerti dengan kesusahan hati saya sehingga merekalah yang memberi semangat hidup agar saya tetap pada jalan idealisme dan bertahan hidup di kota Khatulistiwa itu.

Baca Selengkapnya..
Selasa, 2008 Mei 27

SELAMAT ULANG TAHUN

Adikku
Kau adalah matahari yang tiada lelah menyinari hati
Kau adalah purnama yang tiada lelah menerangi kegelapan rasa
Kau adalah segumpal salju yang mendinginkan hati pada puncak emosi
Kau adalah adikku yang berulang tahun hari ini 28 Mei 2008
22 tahun yang lalu engkau terlahir
Sekarang kau mendampingiku
Untuk bersama menggapai hidup bahagia

Kau bisa semangatkan ku saat aku terpuruk
Terluka oleh kejamnya gilasan waktu, beling yang menusuk kalbu
Kau hadir nyata di depanku untuk memberi sebuah senyuman yang sekali lagi menjadi penyejuk hati
Meski saat ini, jarak yang memisahkan kita, namun ku yakin Cinta sejati yang selama ini kita jalani akan mempertemukan dan Yang Mahakuasa menyatukan kita dalam mahligai nan suci.Margareta Mida Anzasari, nama yang indah selalu menghiasi dan mendapat tempat abadi dalam hatiku.



Baca Selengkapnya..
 
© 2008 *By Templates para Você*