Rabu, 15 April 2009

Jalan Kaki Demi Ketemu Gubernur

Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak

Dusun Sungai Bansi, merupakan salah satu dusun di wilayah Desa Merawa, Simpang Hulu, Ketapang. Daerah tersebut merupakan pegunungan. Karenanya, masyarakat hidup dari berladang. Kehidupan itu, layaknya pola kehidupan masyarakat Dayak, pada umumnya.

Selain menamam padi, masyarakat Sungai Bansi menanam sayuran di ladang. Sambil menunggu panen, dan sayuran yang di tanam akan tumbuh lebih cepat dari umur padi. Sayuran mereka petik dan dijual ke desa lain. Seperti ke Balai Berkuak, ibukota Kecamatan Simpang Hulu, Balai Semandang dan sebagainya.

Jarak Sungai Bansi ke Balai Berkuak dan Balai Semandang, sekitar 60 kilometer. Jalannya? Alamak, untuk ukuran perempuan, mirip dalam puisi Hartoyo Andangjaya yang berjudul Perempuan-perempuan Perkasa.

Seperti yang dilakukan Yanti, Domit, Lin dan Plangont, warga desa Sungai Bansi Desa Merawa, Kamis (26/3). Mereka berjualan sayur ke desa lain. Biasanya meeka berangkat pada 05.00 pagi, atau menjelang ayam berkokok pagi hari. Namun, ketika mendengar kabar Gubernur Kalbar mau berkunjung ke Balai Semandang, mereka sudah memetik sayur dua hari sebelumnya. Terutama buah waluh dan mentimun, untuk dijual ke Balai Semandang.

”Siapa tahu, Pak Cornelis mau beli. Kan, dia banyak duitnya,” kata Lin polos.

Beberapa jenis sayur lain, seperti terung dan kacang panjang, mereka petik sehari sebelum berangkat. ”Ladang kami jauh dari rumah. Makanya, diambil dua hari sebelumnya,” kata Yanti kepada saya pagi itu.

Menurut Plangont, jarak ladang ke rumah mereka di Sungai Bansi, kalau ditempuh jalan kaki pulang pergi selama satu hari.

Kamis (26/3), mereka berangkat ke Balai Semandang. Tujuannya, ingin bertemu Gubernur Kalbar. Sayuran yang mereka bawa, tidak disinggahkan dimanapun, seperti biasanya. Setelah pukul 14.00, mereka tiba di Balai Semandang. Keempatnya langsung menuju rumah Matheus Juli, tepat Gubernur dan rombongan menginap.

Matheus Juli langsung mengarahkan keempatnya yang masih bermandi keringat ke dapur. Tidak berapa lama, Frederika Cornelis keluar menyambangi mereka. ”Ini ibu gubernur kita,” kata Juli.
Mereka langsung menyalami. Ada yang mencium tangan. Ada suasana haru. Bagaimana tidak? Demi bertemu pemimpinnya, mereka harus jalan kaki sedemikian jauh. 60 km.

Saya menjelaskan ke Ny. Frederika, mengenai asal-usul mereka. Mereka darimana, bagaimana mereka berangkat, dan bagaimana memperoleh sayur, hingga bisa sampai bertemu dengan pemimpin yang ingin mereka lihat.

Frederika mengerti. Ia segera memborong semua sayuran, dan membawanya hingga ke Pontianak. Setelah sayur habis diborong, para perempuan perkasa itu, kembali ke daerahnya.

Melihat kegigihan mereka, saya teringat bait-bait puisi Hartoyo Andangjaya berjudul Perempuan-perempuan Perkasa:

”Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota. Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.”

Baca Selengkapnya..

Infrastruktur Jalan Masih Jadi Kendala

Hentakun
Borneo Tribune, Pontianak

Cuaca panas, dua orang dengan badan penuh lumpur berlari mencari perlindungan di tepi jalan Trans Kalimantan di dusun Blonseh, Kecamatan Simpang Hulu. Mereka kepanasan setelah sekian lama dibawah truk Colt Diesel PS 120 yang mereka perbaiki karena mengalami kerusakan pada tranmisi.
Di dalam truk yang dibawa Sion (32) dan di temani Daud (27) tersebut penuh muatan karet yang dibawa dari desa Semandang Hulu untuk dijual ke Pontianak, Jarak tempuh Semandang Hulu-Pontianak normalnya delapan jam. Namun saat jalan Trans Kalimantan sebagai penghubung satu-satunya rusak parah waktu itu bisa menjadi seminggu.
Selain di Blonseh, mereka mereka akan menemukan titik jalan rusak seperti di kilometer 13, dan desa Kuala Labai serta beberapa titik lain yang cukup menyulitkan truk jenis Colt Diesel lewat.
”Seminggu baru sampai di Tayan,” kata Daud.
Jalan ini semestinya hanya bisa dilewati kendaraan roda empat yang double gardan. Sion sang supir mengaku biasa menginap di jalan kalau Truk amblas, apalagi kalau sampai rusak.
”Kami harus berjalan kaki atau naik ojek ke Tayan atau Pontianak untuk membeli alat Truk,” kata Sion.
Martha (36), pengusaha karet asal Semandang Hulu mengeluhkan kondisi jalan Trans Kalimantan ruas Tayan-Simpang Hulu rusak, karena sulit mendistribusikan barang-barang sembako ke daerah pedalaman di Simpang Hulu dari Pontianak, jika pun bisa harganya sudah pasti dua kali lipat.

Panjang jalan Trans Kalimantan mencapai 2900 km yang menghubungkan dua provinsi, yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Gubernur Kalbar, Cornelis menargetkan pembangunan jalan Trans Kalimantan ini selesai 2010. Pada kunjungan kerjanya ke pedalaman Kalbar mulai dari Balai Semandang, Sandai sampai ke Perbatasan Kalteng, Maret lalu, gubernur Kalbar menemukan fenomena kehidupan masyarakat yang terkadang menyesakkan dada. Mulai dari kurang bersahabatnya infrastruktur jalan sehingga menyulitkan akses dari satu daerah ke daerah lain, sampai masalah pendidikan. “Sedih saya melihat keadaan ini,” kata Gubernur di sela-sela kunjungan kerjanya.
Waktu itu, Ia meninjau langsung pengerjaan Jalan Trans Kalimantan poros Selatan (Tayan-perbatasan Kalteng). Gubernur melihat langsung fenomena kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pedalaman Kalbar.

Masalah kemiskinan
Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musrenbang- RKPD), Provinsi Kalbar 2010, di Pontianak, awal April kemarin, gubernur menyebutkan, angka penduduk miskin turun bertahap, periode Maret 2007 prosentase penduduk miskin perkotaan mencapai 11,45 persen, periode Maret 2008 9,98 persen. Prosentase penduduk miskin pedesaan periode Maret 2007 13,47 persen, maret 2008, 11,49 persen. Secara keseluruhan penurunan penduduk miskin selama kurun waktu setahun pembangunan telah dapat menurunkan angka kemiskinan perkotaan 1,47 persen dan pedesaan 1,98 persen. Untuk membenah ini, Pemerintah Provinsi akan meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat.

Data dari Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BPPN, yang dipaparkan pada pembukaan Musrenbang Provinsi Kalbar 2009, April 2009, menyebutkan angka Indek Pembangunan Manusia (IPM) di Kalbar, 2007, 67,5, peringkat ke-29 nasional. Menanggapi hal itu Gubernur Kalbar menargetkan 2009 diharapkan menjadi 72,6dan 2010 ditargetkan mencapai 73,9. “Ini pekerjaan rumah kita semua,” ujar Gubernur.

Sebagai upaya nyata peningkatan IPM Kalbar, salah satunya ketika kunjungan kerja di Subah, Sambas, Rabu (1/4) Gubernur berpesan kepada masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya, serta selalu menjaga kesehatan.
“Kita memiliki dana pendidikan sebesar satu triliun dan dana BOS, serta Jamkesmas, jadi tidak ada alasan untuk tidak menyekolahkan anaknya, dan tidak ada alasan masyarakat untuk tidak berobat” ungkap Cornelis.

Mulyadi, Camat Subah, mengakui saat ini yang menjadi kendala mendasar, minimnya sarana dan prasarana infastruktur jalan, dan jembatan yang menghubungkan akses antar kecamatan. Kecamatan Subah merupakan hasil dari pemekaran kecamatan Sambas pada 2001 lalu. Jumlah penduduk Subah saat ini 19 ribu jiwa terdiri dari 11 desa dan 34 dusun, Kecamatan yang baru berumur 8 tahun juga baru memiliki 1 SMA, 6 SMP, dan 25 SD.

Staff Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Ngatman, menjelaskan, untuk membantu peningkatan IPM, Pemprov meneruskan program wajib belajar sembilan tahun yang saat ini berhasil, sehingga target kalbar bebas buta aksara tercapai, Ngatman mengharapkan keterlibatan elemen organisasi seperti PKK, LSM, Dharma Wanita dan instansi pendidikan seperti Perguruan Tinggi, seperti Universitas Tangjungpura, Universitas Muhammadyah Pontianak dan perguruan tinggi lainnya.

Memang, untuk meningkatkan IPM, seperti disampaikan Gubernur, kecerdasan sumber daya manusia, derajat kesehatan masyarakat ditingkatkan, untuk menangani ini diperlukan peningkatkan kapasitas sumber daya aparatur, manajemen pemerintahan dan pelayanan publik lebih baik. ”Mencapai sasaran tersebut kita fokus pada program dan kegiatan yang mempunyai daya ungkit (leverage) tinggi untuk meningkatkan Human Development Indeks (HDI) dan perlu sinergi pembiayaan pemerintah, swasta dan masyarakat,” terang Gubernur.

Dalam laporan keterangan pertanggung jawaban Gubernur Kalbar, tahun 2008 di depan rapat istimewa DPRD, akhir Maret lalu. Menjelaskan, sektor pendidikan secara perlahan menunjukan peningkatan meski belum signifikan. Presentase kelulusan UN SPM/MTs 2008 73,62 persen atau meningkat 0,56 persen. Di tingkat SMA/MA turun 2,16 persen bahkan SMK, menurun tajam 11,80 persen, sehingga kedepan diupayakan perbaikan. Pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APK) Kalbar jenjang pendidikan SD/MI/Palet A 113,39 persen, melebihi target nasional 110,0 persen. Jenjang SMP/MTs/Paket B, 83, 73 persen melebihi tingkat nasional 81,9 persen. Jenjang SMA/SMK/MA/Paket C, 46,80 persen, lebih rendah dari tingkat nsional, 56, 7 persen. ”Angka Partisipsi murni (APM) Kalbar, 2008 menunjukan peningkatan tetapi dibawah APM nasional,” kata Cornelis.

Untuk meningkatkan IPM, dengan meningkatkan kecerdasan sumber daya manusia, dalam kurun 2008 guru strata satu (SI) 14.100 (24,15 persen) dari 58.375 guru. Sedangkan guru yang sudah disertifikasi 4.920 (34,89 persen) dari jumlah yang dapat disertifikasi. Sebagai sarana penunjang kegiatan belajar mengajar, ada 30.108 ruang kelas dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK, kondisi baik 18.326 ruang atau 60,87 persen, rusak berat 4.421 atau 14,64 persen, rusak sedang 3.839 persen, rusak ringan 3.483 atau 11,57 persen. ”Ini pun harus terus di benahi,” tegas Gubernur.

Kendala Infrastruktur

Ketika meninjau perbaikan jalan Trans Kalimantan ruas Tayan- Kalimantan Tengah, Maret lalu, Gubernur mengatakan, muara dari ketertinggalan dan kemiskinan masyarakat Kalbar salah satunya belum layaknya infrastruktur penghubung daerah satu ke daerah lain. Kenapa kalau mau ke Kalimantan tengah, harus naik pesawat ke Jakarta dulu? padahal Kalbar-Kalteng satu pulau kalau ditempuh perjalanan darat lebih ekonomis.
Masalah ini pula yang ”menggelitik” empat gubernur di Kalimantan (Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Kaltim) sehingga dibentuklah Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan (FKRP2RK), Gubernur Kalbar menjadi koordinator forum tersebut menggantikan Gubernur Kalteng, Agustinus Teras Narang.

Ketika serah terima Koordinator FKRP2RK di Pontianak (2/3), Agustinus Teras Narang mengatakan, pembangunan infrastruktur jalan Trans Kalimantan menjadi perhatian utama empat pemimpin Kalimantan, agar ke depan akses transportasi penghubung antar wilayah mudah, ”Kita tidak perlu ke Jawa lagi kalau mau ke provinsi lain di Kalimantan,” ujarnya.

Nada sama semakin nyaring diteriakan di pusat, ketika Gubernur Cornelis menjadi koordinator periode (2009-2010), apalagi di Kalbar, masalah infrastruktur menjadi kendala utama akses pembangunan. Sejak dibangun, ruas jalan provinsi seperti ruas jalan Provinsi penghubung Bengkayang-Sambas yang melewati Subah belum diperbaiki.

Gubernur Kalbar saat kunjungan kerja ke Subah, Rabu (1/4) juga mengeluhkan keadaan jalan tersebut. ”Kalau kita melewati jalan tersebut bikin demam,” ujar Gubernur serius. Ia akan memperbaiki jalan raya Subah pada Tahun 2010 yang dianggarkan dalam APBD. Lanjutnya, untuk APBD tahun ini, Gubernur menyampaikan langsung ke masyarakat Subah, kalau anggaran sudah ketuk palu. ”Jalan Subah-Sambas dianggarkan di APBD 2010. Saya minta masyarakat Kecamatan Subah bersabar” kata Gubernur.

Infrastruktur di Kalbar memang masih menjadi pekerjaan rumah besar pemimpin daerah ini. Ruas jalan Tayan-batas Kalteng masih akan menelan biaya banyak. Sebagai realisasi dari komitmen pemerintah Provinsi Kalbar menembus keterisolasian pedalaman, poros jalan Tayan-Kalteng sudah dikerjakan.
Menurut data Satuan Kerja Non Vertikal tertentu Pembangunan Jalan dan Jembatan Kalimantan Barat Dinas PU Kalbar. Untuk paket pembangunan jalan Tayan-Teraju-Batas Balai Berkuak, 40,00 km dikerjakan PT Waskita Karya, dengan dana ADB dan RMP, Rp 122.037.185.000,00,-. Paket pembangunan jalan Balai Berkuak-Aur Kuning (1) oleh PT. Brantas Abiraya-PT. Pensasi Karya Prima, dana APBN Rp. 86.575.094.000.00,-. Paket pembangunan jalan Balai Berkuak-Aur Kuning (2), 32,50 km, oleh PT TCP dan PT Strada Multiperkasa menelan biaya APBN Rp 85.538.631.000,00,-. Paket pembangunan jalan Aur Kuning-Sandai (10 km) dari APBN Rp 71.810.655.000,-. Paket pembangunan jalan Sandai-Nanga Tayap, 15 km dengan APBN Rp. 40.789.444.000.00,- oleh PT. Adhi Karya (Persero) tbk. Paket pembangunan jalan Nanga Tayap-Batas Kalteng (10 km, dari APBN Rp 73.926.039.000,00,- oleh PT. Daya Mulya Turangga.

Baca Selengkapnya..
Rabu, 18 Maret 2009

Matheas...

Hari istimewa nan melelah. Begituah hari-hari saya lewati di garis batas Khatulistiwa. Ketika saya mendatangi senja sore itu di Siantan, saya bersama Mathias Waldmayer, kami berdua berfoto bersama, karena suatu saat kami pasti berpisah, Dia Pulang ke Jerman.

Sore itu, saya bercerita tentang Indonesia, dia bercerita tentang Jerman, saya belajar bicara Inggris, bagi saya bahasa itu gampang-gampang susah. gampangnya karena tinggal di singkat dari bahasa Indonesia, misalnya bola dalam bahasa inggris ball, lampu jadi lamp. Jadi kalau kita bicara dengan orang eropa mau minta kerja gampang, tinggal ngomong, "Tab tu sa min ker," artinya Tabek tuan saya minta kerja. Gampangkan?. Tapi kalau diapakan sama bule' jangan marah ya itu memang standar bahasa jamannya Anglo Saxonnya saya.

Dalam perjalanan kami, saya tanpa malu minta satu dollar dari Matheas, bukan untuk deposito, kalau mau dibilang ngemis boleh juga, tapi bagi saya itu untuk kenang-kenangan. Saya ingin mendapatkan uang dollar dari orang Jerman yang kuliah di Bonn University itu, untuk kenag-kenangan kami, karena saya tahu suatu saat kami pasti berpisah dan entah kapan ketemu.

Saya orangnya penyuka keabadian, dalam persahabatan pun mesti ada kenang-kenangan dan kenangan biar saling ingat sepanjang hayat. Sama dengan menulis, bagi saya menulis itu mengenang untuk keabadian, kata Pak Pram.

Bagi saya juga, persahabatan jauh lebih berharga daripada apapun, namun cari sahabat itu sama dengan belajar bahasa inggris, kadang saya menggunakan sistem SKSD, tapi jangan ditiru, bisa-bisa kamu digampar apalagi kalau ketemu orang angkuh, yang wajahnya saja tidak bersahabat seperti monyet misalnya. Tahukan orang Indonesia yang selalu menerapkan kecurigaan lebih dulu daripada pikiran positif jika ketemu orang baru?.

Kembali ke Kisah sore itu, agar tak banyak ngelantur.

ketika rapat redaksi, saya dipanggil Mathias, ternyata dia beri saya satu Dollar, dan menukarnya dengan kartu nama saya. Saya senang bukan kepalang, rasanya seperti mendapatkan ribuan kali lipat dari kenyataan, saya tidak melihat nominalnya, tapi Mathias Konsisten, janji dia tepati, saya diberi kenangan berarti dan berharga, saya janji akan simpan itu, siapa tahu Mathias selesai kuliah di Bonn University Jerman kelak jadi Presiden menggantikan Horst Köhler,yang sekarang menjabat Presiden Jerman.

Horst Kohler lahir 22 Februari 1943 Köhler Pemilihan Presiden Jerman 2004 Pemilihan_Presiden_Jerman 2004 Bundesversammlung (Jerman) Sebelum terpilih, Köhler mempunyai karier yang cemerlang di dunia politik dan sebagai pegawai negeri. Paling akhir ia menjabat sebagai kepala di Dana Moneter Internasional
Mathias pintar dia pandai bahasa Inggris dan Jerman, saya doakan kamu sukses ya le', (bule' Matheas)....Mathias Sampai Ketemu...Saya Tunggu Kamu di Bumi Borneo dan di Borneo Tribune lagi...kita main futsall ya...saya tak tahu saya bisa ke tempat mu atau tidak.Gusti Ora Sare...

Baca Selengkapnya..
Senin, 09 Maret 2009

Suatu Kebodohan?

Pagi itu otak saya error. Saking errornya tidak ada persiapan ketika berangkat memburu berita, padahal banyak yang bisa ditulis. kalbar besar, kemiskinan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. belum lagi illegal logging, perampokan kian menjadi, tata pemerintahan tidak jelas karena legislatif dan eksekutif berebut kuasa, masing-masing tidak mau kalah

Ini lahan buat wartawan," kata teman suatu ketika.
Pertikaian bisa dibesarkan dan dikecilkan tergantung kelihaian wartawan memainkan situasi, pun kalau wartawannya cerdas
Kadang saya juga tak suka dengan profesi ini, namun karena panggilan dan hobi, pusing bagaimanapun tetap saya jalankan. Bukan apa, hanya benci sama diri sendiri saja, ide kadang hilang, pas tidur atau diatas motor seribu ide muncul untuk meulis apa saja, termasuk menulis yang ( maaf) jorok-jorok tentang lawan jenis babi jantan, ditempat pemotongan.

**
agak tak nyambung, Pagi itu saya berangkat berburu. Pulpen, buku dan kamera serta perlengkapan tempur lainnya sudah menyatu di Tas pemberian Pertamina. Tas kerja itu setia berpagut di punggung setiap hari, tanpa komentar mencium bau keringat yang kadang tak sesuai selera penciuman normal.
saya melaju di jalanan, perut keroncongan, semadi nam saya singgah di Pak Tea, karena malamnya, Pak Sarimin, Guru SLTP saya meminta ke rumah. Dia bawa oleh-oleh dari Darit, Mempawah Hulu, Landak. Ini...ni... sangsang babi, wuih enak sekali-sekali enak.
Tanpa banyak cing-cong saya makan hampir tak ditawar sama orang rumah, niat makan hampir bersamaan dengan tawaran. Pak Tea yang seprofesi dengan saya sebagai pemburu menyirap daging babi yang sebelumnya dipotong sagola.
Enak sekali rasanya makan pagi itu...saya tak tengok kiri kanan...saya makan karena saya lapar.
sambil menunggu Pak Tea mandi, saya nonton metro TV, iklanya berturut-turut Jusuf Kala dengan golkarnya, saya ogah nonton, namun ketika pindah di chanel lain, sama saja, iklan parpol mulu.

Beberapa hari sebelumnya, saya hilang selera meliput JK yang datang ke Pontianak, dalam rangka kunjungan sebagai Ketua DPP Golkar, tugas itu saya limpahkan ke senior, agak tak sopan memang...tapi bagaimana, saya paling alergi dengan ketatnya pengamanan Paspampres, sampai-sampai ditegur wartawan pun paspampres tak mau nyahut, wajahnya pun terkesan tak bersahabat, saya malas dan pulang saja dari Zamrud Khatulistiwa. Di hati sudah hilang niat meliput JK, jengkel juga..."Tak tahu aslinya JK akrab tidak sama rakyat kecil, kan dia anak saudagar?".

Seberapa jahat ya orang Kalbar, sampai paspampres kayak gitu? gumamku. JK-kan dipilih rakyat, meski dia datang sebagai DPP Golkar, Rakyat tetap menganggapnya sebagai Wapres, Rakyat Kalbar ingin ketemu langsung dan mengeluhkan setiap kesengsaraannya pada pemimpin yang mereka pilih langsung.

Jaman Pak Karno, Pengamanan tak segitunya, beliau bebas berjalan dipematang sawah, ngobrol dengan rakyat di mana saja. Beliau tahu persis bagaimana kehidupan rakyat. Di malam gelap pun rakyat hafal dengan suara pak Karno.

Setahu saya, Pak Karno itu presiden Indonesia yang merakyat, kebapakan dan berkarakter sehingga banyak politikus yang menyertakan gambar Pak Karno dalam balihonya, padahal politikus tersebut sifatnya bertolak belakang dengan Pak Karno, boleh uji? apalagi soal karakter. Ah... jadi ngelantur.

Kami berangkat dari rumah, rencana mau ke Hotel Santika, liputan paeran pendidikan internasional, namun sudah selesai, kasihan deh. muka dua orang tanpa dosa keluar...dan membayar parkir, berlalu ke Jalan Ampera ketemu Deputi Direktur walhi, Blasius Hendi Candra, mau wawancara apa saj yang menjadi isu terhangat dari walhi.

Rumahnya di jaan Ampera, lewatnya Jalan Danau Sentarum, saya ditanya sama Pak Tea..."Ini lurus kah?"
"Lanjut?" kataku, padahal tak tahu dimana arah jalan Ampera.
eh...ternyata kami sudah sampai di Sungai Jawi...saya memang tak tahu mana jalan danau sentarum, apalagi Jalan Ampera.
Namun sok tahu saja, kan baru tiga bulan di Pontianak...mana bisa cepat menghafal jalan ruwet kota ini, apalagi menghafal kios liar di tepi jalan.

Kami nyasar...Pak Tea yang biasanya kalau marah jenggotnya tambah panjang tak bisa marah karena dia juga lama tak di Kalbar. Kami bingung, balik lagi ke jalan awal, nyari rumah Hendi. Aku hanya komentar " Tanyak Kelik Selubang namanya..."

Baca Selengkapnya..
Senin, 16 Februari 2009

Sebuah Puisi hadiah Valentine

Ku tuliskan sebuah puisi kerinduan
Dalam bayang kubelai lembut jemarimu
Ingin sekali kubelai saat ini
Angin membisik anganku tuk selalu bersamamu... Sebait puisi, sengaja kutulis untuk Valentine Day kita berduaMenjaga benang kasih sayang yang saat panjang terbingkai
Meski letih mendera...tak akan ku hiraukan kerikil beradu dengan tapak kakiku..
Melangkah menggapai keabadian yang telah kita ukir berdua...
Apa kau merasakannya di sana...getar rinduku kadang membuat air mata tak terasa menetes...Happy Valentine Day...

Baca Selengkapnya..
Rabu, 11 Februari 2009

Melestarikan Tenun Sambas (1)

Borneo Tribune, Sambas

"Asyiknya menenun itu, bila sudah hampir selesai, motifnya bagus," ujar Emi Purnima kepada saya sembari tersenyum. Dia pun menyambut dengan ramah.
Ruang yang tidak begitu besar, di rumah yang terletak di Jalan Pendidikan Kota Sambas, terletak seperangkat alat tenun manual hampir memenuhi ruang berukuran 4x4 meter itu. Di jendela rumah, tampak pemandangan jembatan kayu seakan memotong tenangnya arus Sungai Sambas.
Peralatan tenunnya licin mengkilap pertanda sering dipakai pengunanya. Emi Purnima, generasi ketiga pelestari tenun Sambas yang terkenal itu.
Gerimis sore yang mengiringi perjalanan saya menuju kediman Emi. Karena hanya gerimis, saya pun tidak mencari tempat berlindung. Saya langsung menuju rumah yang persis berhadapan dengan SDN 4 Sambas.
Saya sengaja singgah di rumah itu karena ingin bersilaturahmi dengan penghuni rumah, mereka dulu guru SMPN Balai Berkuak, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang tempat saya bersekolah.
Irianto dan Emi Purnima, sejak tahun 2003 kembali ke tanah kelahirannya di Sambas, mengabdi sebagai guru juga. Irianto megajar di SLTP Sejangkung, sedangkan Emi Purnima mengajar di SLTP Semberang, semuanya di wilayah Kabupaten Sambas.
Malam itu, kami berbincang-bincang mengingat ketika saya menjadi siswa dan mereka yang menjadi guru saya. Setiap kenangan kami utarakan tak ada habisnya, mereka antusias sekali.
Sejak lulus D III Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura 1986, setahun kemudian, Irianto bertugas di Balai Berkuak menjadi guru Bahasa Indonesia, sedangkan Emi Purnima, istrinya menyusul setahun kemudian mengajar bidang studi yang sama.
Pahit manisnya hidup, mereka rasakan sewaktu menjadi "Oemar Bakri" di Balai Berkuak, dengan gaji golongan dua waktu itu Rp56.000, beras 10 kg, kalau digabung, gaji mereka berdua hanya cukup untuk kebutuhan keluarga sebulan.
Sementara menurut Irianto, setiap dua bulan salah satu mereka harus ke Sambas menjenguk putra-putrinya, Andika dan Mega yang masih kecil tinggal dengan kakek neneknya bersekolah di Sambas. "Waktu itu serba sulit, gaji segitu beh tak cukup untuk ke Sambas," kenang Pak Irianto dengan logat Sambas yang kental.
Tahun pertama Irianto dan Emi Purnima di Balai berkuak, Jalan Trans Kalimantan belum ada, transportasi lewat Sungai Kualan. Kalau mau ke Sambas harus ke Pontianak dulu. Perjalanan ditempuh sekitar empat hari baru sampai di Sambas.
Itu pun harus menunggu kalau ada motor orang Tionghoa ke Pontianak membawa karet. Waktu tempuh motor air dari Balai Berkuak-Pontianak dua hari, istirahat satu hari di Pontianak menunggu bis ke Sambas, hari berikutnya baru sampai di kota yang terkenal dengan bubur pedasnya itu.
Irianto menambahkan, untuk mencukupi kebutuhan dan biaya transportasi ke Sambas dengan menjual hasil tenunan istrinya. Karena hobi tadi, ketika pindah ke Balai Berkuak, dia membawa serta peralatan tenunnya. Hasil penjualan dua helai kain tenun ketika itu bisa mencapai Rp160.000.
Sedang asyiknya kami bercerita, mata saya tertuju pada kain tenun yang dibingkai tergantung rapi di ruang tamu. Menurut Emi--begitu dia akrab dipanggil, tenunan tersebut hasil karyanya sendiri, yang pernah dipamerkan di even pameran kabupaten ketika masih di Balai Berkuak.
Emi pandai menenun, keahlian tersebut didapatnya dari sang ibu, Fatimah Ahmad yang juga seorang penenun. Dia belajar menenun dengan sang Ibu sejak kelas 4 SD tahun 1976. Putri sulung Abdul Kadir, mantan Kepala Desa Jagur, Sambas ini menganggap menenun itu hobi dan tradisi turun temurun keluarga, dia generasi ketiga penenun, sehingga perlu dilestarikan. "Ini tradisi Sambas, saya ikut melestarikannya," ujarnya. (Bersambung)

Baca Selengkapnya..
 
© 2008 *By Templates para Você*